Connect with us

Ragam

Tradisi Dugdag Ramadhan, Bedug Hadiah Syeikh Quro Karawang Masih Terdengar di Cirebon

Published

on

CIREBON – Selain menjadi alat penanda masuknya waktu shalat, bedug yang berada di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kesultanan Cirebon, Kota Cirebon, hingga sekarang masih terdengar suaranya di malam hari saat Bulan Ramadhan.

Imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa, KH. Syarief Yamani, M.Pd.I. menjelaskan, bahwa tradisi menabuh bedug atau yang sering disebut dugdag itu sudah berlangsung sejak abad ke 14 ketika Syeikh Syarief Hidayatullah atau Kanjeng Sunan Gunung Jati menyebarkan Agama Islam.

Kala itu, bedug masih menjadi alat komunikasi utama di tengah-tengah masyarakat. Namun setelah Syiar Islam masuk, bedug ditabuh untuk mengabarkan tanda masuknya waktu shalat.

“Selain menjaga tradisi, bedug yang merupakan hadiah dari Syeikh Quro Karawang ini masih tetap dirawat dan digunakan hingga sekarang,” ujarnya, Sabtu (16/3/2024).

Syarief menambahkan, saat Ramadhan seni memukul bedug itu dilakukan setiap malam yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa masih ada orang yang terjaga hingga waktu sahur.

“Biasanya bedug ditabuh bergiliran oleh Para Pemuda warga sekitar Masjid. Dimulai jam 10 malam atau selepas Tadarus, hingga pukul 12 malam,” jelasnya.

“Penabuh dugdag sendiri sudah turun temurun diajarkan oleh Para Kaum (Pengurus Masjid.Red) dari dulu hingga sekarang,” imbuhnya.

Masih Syarief menambahkan, dugdag ditabuh tidak sembarang saja, ada beberapa ketukan yang memang disesuaikan dengan alunan Dzikir Kalimat Tauhid, seperti Tahlil Laa Ilaaha Illallah serta Bacaan Tasbih, Tahmid dan Takbir.

“Pada akhir dugdag tepat pada pukul 12 malam, ditabuh sebanyak 99 kali pukulan bedug yang menyesuaikan dengan jumlah Asmaul Husna,” pungkasnya. (red/cho)

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement