Connect with us

Regional

Bedug Hadiah Syeikh Quro Masih Berdentum di Cirebon, Tradisi Dugdag Bertahan hingga Ramadhan 2026

Published

on

CIREBON – Dentuman bedug tua di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kota Cirebon, masih menggema hingga Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi, menjaga denyut tradisi Islam yang telah berusia berabad-abad.

Bedug tersebut diyakini sebagai hadiah dari Syeikh Quro kepada Syarif Hidayatullah dalam masa awal penyebaran Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-14.

Sebelum pengeras suara dan teknologi digital dikenal luas, dentuman bedug menjadi penanda masuknya waktu shalat sekaligus simbol hadirnya syiar Islam di tengah masyarakat pesisir utara Jawa.

Salah satu Imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Ustadz H. (Qori) Syarief Yamani, M.Pd.I., mengatakan tradisi menabuh bedug atau yang dikenal dengan istilah “dugdag” telah berlangsung sejak masa dakwah Kanjeng Sinuhun Syarif Hidayatullah.

“Selain menjaga tradisi, bedug yang merupakan hadiah dari Syeikh Quro Karawang ini masih tetap dirawat dan gunakan hingga sekarang. Bahkan hanya sempat diganti kulitnya saja, karena usia,” ujarnya yang juga Pengasuh Ma’had Dhiya’ul Qur’an – Kota Cirebon, Kamis (19/2/2026) malam.

Menurut dia, keberadaan bedug tersebut bukan sekadar artefak sejarah, melainkan simbol kesinambungan tradisi keagamaan yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.

Setiap malam selama Ramadhan, seni dugdag kembali ditampilkan selepas tadarus Al-Qur’an. Tradisi ini dilakukan oleh para pemuda dan jamaah masjid secara bergiliran, dimulai sekitar pukul 23.00 WIB hingga tepat tengah malam.

“Biasanya bedug ditabuh bergiliran oleh para jamaah pemuda, warga sekitar Masjid. Dimulai selepas Tadarus-an, hingga pukul 12 malam. Penabuh dugdag sendiri sudah turun temurun diajarkan oleh para Kaum (Pengurus Masjid) dari dulu hingga sekarang,” jelasnya.

Ia menambahkan, pola tabuhan dugdag tidak dilakukan secara sembarangan. Ketukan diselaraskan dengan lantunan dzikir seperti kalimat tahlil “Laa Ilaaha Illallah”, tasbih, tahmid, dan takbir.

“Pada akhir dugdag ditabuh sebanyak 99 kali yang menyesuaikan dengan jumlah Asmaul Husna,” terangnya.

Dentuman ke-99 yang tepat jatuh pada pukul 00.00 WIB menjadi penutup rangkaian dugdag setiap malam Ramadhan. Sejak dahulu, suara tersebut menjadi penanda bahwa masih ada jamaah yang beribadah di masjid sekaligus isyarat bagi masyarakat untuk bersiap menyambut sahur.

Di tengah modernisasi dan perubahan sosial, tradisi dugdag di Masjid Agung Sang Cipta Rasa tetap bertahan sebagai warisan budaya religius yang menyatukan sejarah, dakwah, dan kehidupan Masyarakat Cirebon lintas generasi.

Dentuman bedug itu bukan hanya bunyi, melainkan jejak panjang perjalanan Islam di tanah Cirebon yang terus bergema dari abad ke-14 hingga hari ini. (***)

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement