Nasional
PGRI: Menghapus Pelajaran Sejarah Adalah Tindakan Berbahaya
Published
6 tahun agoon
By
admin
INFOKA.ID – Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) memprotes Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan penyederhanaan kurikulum pendidikan di Indonesia.
Sebab, terdapat rencana penghapusan mata pelajaran sejarah bagi pelajar di SMK dan hanya sebagai mata pelajaran pilihan, bagi pelajar di SMA. Protes keras datang dari Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Dudung Koswara.
“Ada satu jenis tindakan aborsi yang sangat berbahaya dan sangat berisiko tinggi hadirnya cacat mental kebangsaan. Cacat nasionalisme, nir kepahlawanan dan nir adab. Tiada lain adalah aborsi sejarah suatu bangsa dalam sebuah kurikulum di dunia pendidikan,” keluh Dudung dilansir dari Republika.co.id, Minggu (20/9).
Sebagai guru sejarah dan pengurus organisasi profesi guru di tingkat nasional, Dudung merasa geli. Menurutnya, tanda-tanda aborsi itu sudah ada sejak lama, bahkan sebelum Nadiem Makarim menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Bahkan, mata pelajaran sejarah tidak diolimpiadekan atau tidak ada Olimpiade Guru Nasional (OGN) sejarah dan UN pun tidak ada mata pelajaran sejarah.
“Saya pernah berdebat dengan Pak Anas M Adam yang saat itu menjabat di Kemdikbud. Saya protes, mengapa dana negara mengalir milyaran rupiah untuk OSN dan OGN nir pelajaran sejarah? Mengapa mata pelajaran sejarah. Guru sejarah dan siswa IPS peminat sejarah tidak difasilitasi dalam OSN Sejarah kata Dudung.
Sebelumnya, Dudung juga mengaku mendapatkan pengaduan tentang mata pelajaran sejarah di SMK yang mulai diaborsi. Ia menegaskan tanpa sejarah, suatu bangsa akan bermasalah. Bahkan tanpa mengisahkan sebuah sejarah masa lalu, para nabi sekali pun akan sulit diterima jamaah atau suatu kaum.
“Bukankah ajaran semua agama di muka bumi ini berkisah tentang sejarah perilaku para nabi? Ajaran sejarah kebangsaan dalam mata pelajaran sejarah adalah wajib,” tegasnya.
Lanjut Dudung, tanda-tanda ‘mengaborsi’ mata pelajaran sejarah nampak terlihat. Jika pengaborsian mata pelajaran sejarah karena ketidaktahuan dan wawasan yang kurang, tidak terlalu masalah. Namun bila ada indikasi niatan dan modusan maka akan berdampak pada dua masalah besar. Pertama nilai-nilai kesejarahan terkait keteladanan kepahlawanan dan nasionalisme akan melemah. Kedua kelak akan lahir generasi ‘tak tahu diri’.
“Menghilangkan dan mengaborsi mata pelajar sejarah dalam ‘modus’ menjadi mata pelajaran pilihan bukan mata peajaran wajib, sama dengan ‘kejahatan’ kebudayaan. Jas Merah kata Bung Karno, apa Bung Karno pun akan dianggap tidak pernah ada?” tutup Dudung. (*)
Sumber: Republika.co.id


You may like

TPG Dihilangkan Dalam RUU Sisdiknas, PGRI Karawang Tunggu Instruksi Siap Aksi Mogok

Kemendagri dan Kemendikbud Bahas Kelanjutan PTM

Kemendikbud Dorong Kepsek dan Guru Untuk Tingkatkan Mutu Pembelajaran

Nadeim Dorong Pembelajaran Tatap Muka

Setelah Vaksinasi Covid-19 Diterima Guru, Jokowi Tetap Ingin Sekolah Dibuka

Mendikbud Bakal Terbitkan Peraturan Tentang Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan
Pos-pos Terbaru
- Gebrakan Baru! PT Ocean Nusantara Bahari Siap “Sulap” Sungai Musi Jadi Tol Logistik Modern
- Dinas PRKP Buka UPTD di Rengasdengklok, Staf Desa: Baru Tahu Ada Kantor Cabang, Nggak Perlu Jauh ke Karawang
- Polres Karawang Amankan Pengedar Obat Keras Terlarang Di Cikampek, Ratusan Butir Pil Disita
- DPUPR Karawang Tindaklanjuti Usulan Pemdes Rengasdengklok Utara Atasi Banjir
- Menteri PKP dan Pimpinan Daerah Tinjau Proyek HWB Purwakarta: Terobosan Hunian Layak bagi MBR






