Nasional
Waspada! Kasus Campak di Indonesia Meningkat
Published
4 tahun agoon
By
Redaksi
INFOKA.ID – Kasus campak kembali meningkat di Indonesia. Bahkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan kejadian luar biasa (KLB) penyakit campak di Indonesia.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, sampai Desember 2022 sudah ada 3.341 kasus yang dilaporkan di 223 kabupaten dan kota dari 31 Provinsi.
“Hingga Desember 2022 ada laporan kasus di 31 Provinsi di Indonesia,” katanya, Kamis (19/1/2023).
Dia mengatakan saat ini sudah ada 3.341 kasus di 223 kabupaten/kota se Indonesia.
Dia juga meminta masyarakat tetap waspada dan mengetahui gejala yang disebabkan virus tersebut. Gejalanya seperti demam tinggi, bercak kemerahan yang muncul pada kulit.
“Selain itu gejalanya disertai batu atau pilek dan mata kemerahan akibat peradangan tersebut,” katanya.
Siti Nadia mengatakan hal ini harus diwaspadai karena dapat berakibat komplikasi pneumonia, diare, meningitis. Penularannya bahkan bisa melalui batuk dan bersin.
Kasus ini menanjak naik menurut Siti Nadia karena cakupan imunisasi campak pada tahun 2020 sampai 2022 tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan. (*)
Sementara, Ketua UKK Infeksi dan Penyakit Tropis Anggraini Alam menilai kenaikan kasus ini dipengaruhi capaian vaksinasi campak yang cenderung terus menurun. Masyarakat dinilai sudah tidak terlalu khawatir bahkan menganggap infeksi campak sudah hilang di Indonesia.
“Jadi pada 2021 ada 132 kasus konfirmasi, dan di 2022 ada 3.341 kasus. Artinya memang bukan main kenaikannya,” kata Anggraini, Kamis (19/1/2023).
Anggraini mencatat penurunan imunisasi campak sebenarnya sudah terjadi sejak 2015 silam, apalagi ditambah kondisi pandemi virus corona (Covid-19) yang menyebabkan konsentrasi tenaga kesehatan terbagi untuk mengejar vaksinasi Covid-19.
Selain itu, sempat terjadi ‘kericuhan’ akibat status kehalalan vaksin campak pada 2017. Namun ia menegaskan bahwa MUI telah mengeluarkan sertifikasi halal terhadap pemberian vaksin campak.
“Sebenarnya sudah ada program eliminasi campak, itu juga atas WHO minta semua eliminasi 2017 di Indonesia melakukan Jawa Bali, sukses. Tapi ternyata, banyak penolakan karena nextnya muncul adanya isu kehalalan vaksin,” kata dia.
Terlebih lagi, Anggraini mengungkapkan penyakit campak kerap kali disepelekan. Sehingga banyak pula yang melewatkan imunisasi campak begitu saja.
Bahkan terdapat salah satu cerita, saat ada salah satu anak yang terkena campak, orang tuanya ikut tertular secara bersamaan karena tidak memahami upaya preventif.
“Ditambah dengan karena kita lihat, ‘Ah campak, sudah enggak pernah lihat kok. Itu sih zaman dulu’. Kalaupun juga ada campak, ini jarang lihat. Kalau ada dianggap ringan,” imbuh Anggraini.
Lebih lanjut, dalam pemaparannya Anggraini menyebut campak terbagi dalam tiga fase. Awalnya akan muncul gejala berupa demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit disertai dengan batuk, atau pilek.
Selanjutnya, orang tersebut akan mengalami mata merah dan terjadi ruam merah-merah di bagian tubuh, ruam pun menjalar, dan umumnya berawal dari belakang telinga. Dan fase terakhir, gejala terlihat dari ruam yang merembet ke bagian tubuh lainnya seperti tangan dan kaki.
“Kalau memang dilihat kulitnya muncullah ruam setelah demam Dia mempunyai tiga fase mulai dari ada gejalanya ada demam atau gejala khas 3C yaitu campak ada flu, pilek, atau mata merah dan adanya batuk-batuk. Kemudian ada fase erupsi atau ruam merah,” ujarnya. (*)
Sumber: Berbagai sumber


You may like

Kemenkes Siapkan Rp 30 Triliun untuk Pengadaan Alkes di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu

Kemenkes: Kasus Dengue Meningkat Dua Kali Lipat

Kemenkes Catat 94 Petugas Pemilu 2024 Meninggal Dunia, 13.675 Dirawat

Kemenkes: Kenaikan Kasus Covid-19 Varian JN.1 Masih Terkendali

Kemenkes: Kasus Covid-19 Meningkat di 21 Provinsi

Hingga November, Kasus Cacar Monyet di Indonesia Bertambah Jadi 57
Pos-pos Terbaru
- Perkuat Ekonomi Sirkular, Pindo Deli Karawang Bangun Kolaborasi Pengelolaan Sampah dari Masyarakat hingga Industri
- Benahi Ekosistem Otomotif Sumsel, Fariz Montesz Gandeng Arief Purnomo Maju Bursa Ketua IMI Sumsel
- Menyala! Sekda Karawang Dipercaya Bicara Transformasi Layanan Publik di Forum Jakarta Smart City
- Pemerintah Pusat dan Daerah Gelar Rakor Mitigasi Bencana di Karawang
- Ajak Warga Karawang Pelunasan PBB-P2 Sebelum 30 September, Bapenda Beberkan Manfaatnya






