Connect with us

Artikel

Strategi Pembelajaran Jarak Jauh yang Efektif

Diposting

pada

Oleh: Drs. Agus Setiawan. M.Pd. (Kepala SMAN 1 Cikampek)

INFOKA.ID – Ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan mendukung budaya pembelajaran daring/luring di Indonesia, bahkan pasca pandemi COVID-19 berakhir.

1. Pertama, menanamkan pola pikir tentang cara baru belajar

Dengan perkembangan teknologi dan internet saat ini dan mungkin 10-20 tahun ke depan, proses belajar betul-betul “Merdeka Belajar” di mana dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja tanpa ada batas ruang dan waktu. Meskipun, iklim pendidikan di Indonesia masih belum adaptif pada perkembangan ini, di mana orang tua, masih percaya bahwa pendidikan formal di dalam kelas merupakan satu-satunya jaminan untuk memperoleh pekerjaan.

Sebagai fondasi awal, Kemendikbud harus mengkomunikasikan kepada masyarakat untuk menyadari tuntutan baru sistem pendidikan dalam menyiapkan lulusan menghadapi berbagai pekerjaan baru di masa depan yang tidak cukup diajarkan hanya melalui kelas formal. Model pembelajaran kelas formal hanya efektif untuk mengembangkan pengetahuan dasar dan mengenalkan materi baru, sehingga kurang efektif untuk mengembangkan keterampilan yang menuntut keaktifan siswa dalam menyelesaikan masalah secara kreatif dan inovatif.

Salah satu cara Kemendikbud bisa menegaskan hal tersebut adalah dengan merumuskan kembali kurikulum yang lebih sesuai dengan tuntutan keterampilan abad 21. Misalnya, kurikulum tersebut bisa mengedepankan lebih banyak pembelajaran campuran antara tatap muka dan digital (blended learning).

2. Kedua, menyiapkan regulasi untuk pengembangan sumber belajar digital

Pemanfaatan platform yang menyediakan kelas daring (Massively Open Online Courses, atau MOOC) secara masif dan terbuka menjadi salah satu tren praktik pembelajaran daring yang paling efektif saat ini. Beberapa contoh MOOC yang ternama secara internasional adalah Coursera, EdX, dan Khan Academy, sementara untuk kelas berbahasa Indonesia banyak terdapat di misalnya MOOC Universitas Terbuka, Indonesia X, atau Learning Center milik Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMOLEC).

Meskipun MOOC di Indonesia sudah mulai dikembangkan, namun terdapat beberapa permasalahan. Selain jumlah kelasnya yang masih sangat sedikit, studi tentang MOOC di Indonesia juga menunjukkan bahwa tingkat penyelesaian pada kelas daring yang tersedia pun masih rendah karena materi yang tidak lengkap dan kurang menarik bagi siswa.

Regulasi yang sudah ada tentang sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) belum mengatur tentang pengembangan sumber materi seperti platform MOOC maupun standar yang harus dipenuhinya. Dengan landasan hukum, standar kualitas, dan sistem akreditasi yang jelas, Kemendikbud dapat mengembangkan sendiri maupun berkolaborasi dengan universitas lain untuk memperkaya koleksi kuliah daring pada platform MOOC mereka.

Pada akhirnya, akan tersedia platform MOOC nasional yang memuat perpustakaan kualitas materi ajar yang lengkap dan terakreditasi dan dapat diakses di seluruh Indonesia secara terbuka.

3. Ketiga, mencetak tenaga pendidik yang adaptif dalam teknologi pembelajaran

Berdasar hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Universitat Oberta de Catalunya, Spanyol, kemampuan pendidik dalam mendesain strategi belajar menjadi sangat penting karena merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pelaksanaan pembelajaran daring. Di antaranya, merancang, mengorganisir, serta mengendalikan aktivitas dan materi belajar yang interaktif untuk mencapai tujuan belajar.

Pada kondisi saat ini, banyak guru hanya memberi tugas secara daring tanpa adanya umpan balik lalu menganggap pekerjaannya sudah selesai tanpa ada perencanaan strategi belajar jangka panjang—sekadar memindahkan pembelajaran satu arah dari yang biasanya di kelas, ke virtual. Hal ini meninggalkan pengalaman dan kesan buruk bagi siswa dalam melakukan pembelajaran daring.

Di sini, penguasaan tenaga pendidik terhadap teknologi pembelajaran, atau technological pedagogical knowledge (TPK) yang sesuai dengan strategi belajar dan fasilitas yang dimiliki siswa, menjadi kompetensi yang sama pentingnya.

Hal mendasar yang harus dilakukan oleh Kemendikbud adalah memfokuskan pelatihan tentang pengintegrasian teknologi dalam kegiatan belajar mengajar, terutama untuk calon guru, mulai dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) hingga program-program pelatihan Kemendikbud lainnya.

Untuk mengurangi kesenjangan fasilitas akses jaringan internet, pemerintah juga perlu berkolaborasi dengan berbagai industri. Misalnya, terdapat gagasan dari beberapa ahli yang mengusulkan kolaborasi pihak sekolah dengan operator telekomunikasi untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh yang bisa difasilitasi oleh Dewan Teknologi Informasi Nasional.

4. Keempat, Sistem Penilaian Hasil Pembelajaran Daring/Luring

Tidak seperti biasanya, Ketika pandemic Covid-19 masih menghalangi pembelajaran tatap muka di sekolah. Proses belajar mengajar pun diganti dengan sistem daring atau online. Tidak hanya mengubah metode pembelajaran, namun juga mengubah sisem penilaian hasil belajar siswa. Selain untuk mengukur ketercapaian siswa menguasai kompetensi dasar sesuai kurikulum, evaluasi juga berfungsi untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan guru menerapkan metode pembelajaran secara daring di masa pandemic Covid-19 ini. Akhirnya bisa dilakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.

Kemajuan teknologi digital membantu pembelajaran ketika harus dilakukan secara daring di masa pandemic Covid-19. Bagaimana melakukan penilaian dan evaluasi pembelajaran ketika pembelajaran harus dilakukan jarak jauh secara daring, guru dapat menggunakan instrumen-instrumen berikut ini.

a. Tugas

Tugas merupakan salah satu sumber penilaian yang biasanya digunakan guru saat pembelajaran tatap muka di kelas, tugas juga bisa digunakan sebagai salah satu instrumen penilaian dalam pembelajaran daring, namum perlu dilakukan beberapa penyesuaian.

Untuk penugasan, berikan instruksi tertulis yang detail, tetapi cukup ringkas. Ini akan sangat membantu siswa dalam memahami apa saja yang harus dikerjakan. Selain itu, ketentuan tanggal dan jam pengumpulan tugas harus jelas. Tugas dapat digunakan sebagai sumber nilai utama bagi siswa.

b. Ujian

Bukan berarti evaluasi dalam bentuk ujian dapat ditinggalkan setelah diperoleh nilai dari tugas. Ujian tetap dibutuhkan sebagai evaluasi proses pembelajaran, namun tentu saja materi belajar disederhanakan karena kurikulum dan durasi belajar pasti tidak sama saat seperti pembelajaran tatap muka. Guru sudah bisa dipastikan tidak dapat mengawasi langsung siswa saat mengerjakan ujian di rumah, sehingga diperlukan penyesuaian peraturan ujian, misalnya materi soal ujian disusun agar dapat dikerjakan secara open book. Ujian bisa dilakukan dengan online yang terintegrasi, ujian dapat dikerjakan oleh siswa dari rumah secara real time sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

c. Keaktifan

Meski proses belajar mengajar secara tidak langsung/jarak jauh, tidak harus membuat komunikasi yang biasa terjalin di ruang kelas menjadi terhambat. Ruang kelas bisa berganti menjadi ruang maya di mana forum diskusi antarsiswa dan antara siswa-guru dapat terus berlangsung melalui grup kelas.

Forum diskusi bisa dilakukan siswa dan guru melalui aplikasi chatting seperti grup whatsapp. Keaktifan siswa dalam diskusi dapat dijadikan instrumen penilaian. Diperlukan fleksibilitas yang baik dalam grup kelas agar setiap siswa dan guru dapat terlibat dan berpartisipasi aktif.

Pandemi telah mengubah kebiasaan dari kelas tradisional menjadi kelas online yang memang bukan hal yang mudah untuk dijalani, baik bagi siswa maupun guru. Dengan flksibilitas memilih instrumen yang tepat dapat mempermudah penilaian pembelajaran yang harus dilakukan guru. (*)

Tinggalkan pesan

Balas Pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement