Connect with us

Regional

Para Petani Merugi, Harga Cabai Merah di Majalengka Anjlok

Published

on

INFOKA.ID – Petani cabai merah di Kecamatan Argapura Majalengka mengeluh karena harga cabe merah dan cabai rawit yang terus merosot yang menimbulkan kerugian besar.

Bahkan, sebagian para petani membiarkan cabai mengering di pohon tidak dipanen dengan alasan jika dipanen tingkat kerugian akan lebih besar.

Selain itu ada juga yang membakar tanaman dan buah cabai sebagai bentuk kekecewaan terhadap harga cabe yang membuat para petani ini merugi.

Dadi, salah satu petani cabai di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura mengatakan, harga jual cabe merah di tingkat petani kini hanya Rp5.500 hingga Rp6.000 per kg.

Kata Dadi jika ingin mendapat keuntungan dari hasil panen, harga cabai seharusnya dijual kisaran Rp 14 ribu.

Sementara biaya petik mencapai Rp50.000 setengah hari dan setiap pekerja hanya mampu memetik cabe dibawah 8 kg.

Para petani cabai di Desa Argalingga ini menduga rendahnya harga cabai disebabkan karena PPKM yang terus-menerus diperpanjang sehingga tidak ada masyarakat yang menggelar acara hajatan ditambah banyak rumah makan yang tutup.

“PPKM ini jelas berpengaruh, pertama hajatan dilarang, kedua rumah makan banyak yang tutup. Cabai ini kan larinya kesana, buat acara hajatan sama rumah makan. Jadi otomatis tidak ada yang beli,” jelas Tatang Tarsono petani cabai lainnya.

Selain cabai merah keriting, harga jual cabai lainnya seperti cabai merah besar dan cabai rawit merah juga ikut anjlok. Kata Tatang anjloknya harga cabai ini merupakan yang kedua kalinya semenjak masa pandemi Covid-19.

“Tapi tahun ini agak mending, tahun kemarin lebih parah harganya dari sekarang. Selama pandemi ini lahan yang ditanami cabai disini juga berkurang dari 100 hektare menjadi hanya 50 hektare sekarang,” tuturnya.

Dengan anjloknya harga cabai ini para petani mengaku kebingungan untuk menutupi kerugian. Namun ada juga beberapa petani yang kemudian memilih untuk beralih menanam tanaman lain.

“Bingung gimana lagi ini karena modal sudah habis. Petani banyak yang ga dipanen karena kalau dipanen kan pakai ongkos lagi buat bayar orang, jadi ya ada yang didiemin, ada yang dibakar juga untuk ditanami tanaman lain, jadi ada yang beralih juga,” tutup Tatang. (*)