Regional
Menyikapi Polemik Bahan Bacaan di Karawang
Published
5 tahun agoon
By
Redaksi
KARAWANG– Menyikapi polemik bahan bacaan yang tengah ramai menjelang tahun ajaran baru, redaksi Infoka.id mendapat kiriman email dari salah seorang yang mengaku pelaku pendidikan di Kabupaten Karawang.
Kepada media Infoka.id, pihaknya mengaku prihatin karena kejadian tersebut berlangsung terus menerus setiap tahun, meskipun sudah ada surat edaran dari Disdikpora mengenai larangan sekolah di tahun ajaran baru.
“Filosopi pelajaran yang bermakna selalu mengacu kepada seberapa banyak sumber belajar yang digunakan. Semakin banyak sumber belajar yang digunakan (buku paket, jurnal, majalah, surat kabar, lembar kerja, modul, kajian ilmiah, hasil penelitian) maka proses pembelajaran akan semakin baik, bermutu dan berkualitas,” kata dia.
Tapi, lanjutnya, sudut pandang tentang pentingnya hal itu perlu dipahami bersama agar bisa bermuara pada kepentingan peningkatan kualitas siswa di sekolah.
Kualitas bermakna ganda, satu sisi akan terlihat pada dimensi siswa, sedangkan disisi lain akan terlihat dari kinerja sekolah sebagai institusi.
“Atas dasar hal tersebut di atas, maka semenjak tahun 2015, Kemendikbud menggagas program literasi. Tujuan program ini agar semua siswa melek terhadap literasi dengan banyak membaca sumber belajar, sebagaimana saya sampaikan di atas,” terangnya.
Diungkapkannya, Literasi atau melek bacaan merupakan standar hasil dan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
“Tentu ini merupakan kesepakatan yang harus dibuat oleh sekolah, tapi tidak perlu disosialisasikan kepada orang tua, untuk menghindari pengakuan yang isinya “berbohong” ( sebenarnya mampu membeli tapi mengaku tidak mempu membeli),” ucapnya.
Menurutnya tidak semua sekolah melakukan hal seperti itu (LKS, red). Maksudnya ada koordinasi dan kerjasama, dengan tujuan untuk “kebaikan bersama”.
Menurutnya, setelah berita ini muncul, ada banyak dampak yang akan terjadi, diantaranya:
1. Kondisi hubungan antara orang tua dengan sekolah menjadi tidak kondusif.
2. Sudut pandang tentang ‘jual-beli’ seolah-olah ditujukan kepada sekolah. Padahal sekolah tidak menjual.
3. Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah menjadi terpengaruh
“Tentu itu semua menjadi tanggungjawab bersama, semua pemanggku kepentingan,” sambungnya.
Diungkapkannya, jika ditinjau dari kepentingan pembelajaran, semua hal yang mendukung pembelajaran (alat, teknik, metoda, strategi, pendekatan, teori belajar, buku sumber: buku, modul, lembar kerja, majalah, paper, makalah, hasil penelitian, jurnal) semuanya memiliki peran dan fungsi yang konstruktif bagi pengembangan peserta didik.
“Semuanya memiliki kedudukan yang penting. Yang satu tidak bisa diabaikan. Atau yang satu lebih penting dari yang lain,” katanya.
Struktur pemahaman seperti ini, perlu disosialisasikan kepada semua elemen masyarakat.
Bahwa ada keterkaitan antara sumber belajar yang lengkap dengan peningkatan kognisi, afeksi dan skill para siswa.
“Jadi tidak ada dikotomi penting dan tidak penting. Semuanya menjadi penting bila dikaitkan dengan sumber-sumber belajar,” ucapnya.
Adapun cara guru atau institusi penyelenggara pendidikan melengkapi sumber belajar tersebut sesuai dengan kapasitas, kapabilitas dan kemampuan masing-masing. Sifatnya sangat tergantung kondisi sekolah masing-masing, dan juga tergantung kompetensi guru, dan kepala sekolah.
“Inilah yang perlu menjadi bahan diskusi, agar pemahaman kita menjadi komprehensif dan kemampuan bernalar kita menjadi luas agar tujuan pendidikan di tiap tingkatan pendidikan tercapai sesuai dengan kurikulum,” katanya.
Sementara siswa yang berkualitas tidak hanya memiliki nilai yang tinggi, tapi juga memiliki wawasan dan bacaan yang variatif. Tugas sekolah dan institusi pendidikan baik formal maupun nonformal adalah: menyiapkan seperangkat sumber belajar yang mudah diakses oleh siswa.
“Kemampuan lembaga untuk menyiapkan sumber belajar tentu berbeda-beda.Karena tergantung faktor geografis, demografi dan sosial ekonomi lingkungan masyakat sekitarnya. Tetapi itu semua akan berjalan dengan baik, bila persepsi dan sudut pandang semua pemangku kepentingan menempatkan tujuan pendidikan dan pembelajaran dan keberhasilan pendidikan diatas segalanya. Semoga semuanya berjalan seiring dan sejalan,” harapnya.
Menurutnya, ada hal yang penting dalam meningkatkan literasi siswa. Program ini sangat ideal bagi sekolah dan bagi guru. Satu sisi guru dipaksan untuk terus membaca berbagai hal yang terkait dengan keilmuan dirinya. Sehingga ukuran guru yang hebat itu akan terlihat dari referensi bacaan yang telah dibacanya. Menurut hasil penelitian, bahwa ada korelasi positif dan signifikan antara guru yang HEBAT dengan jumlah bacaan buku yang dibaca termasuk di dalamnya: jurnal, surat kabar, hasil penelitian, modul, lembar kerja, buku ilmiah. Artinya bisa dinyatakan kebalikannya: guru yang tidak berkualitas adalah guru yang referensi bacaannya sedikit atau guru yg tidak pernah mau membaca buku.
“Korelasi ini sama dengan siswa. Siswa yang berbudaya dan hebat itu adalah siswa yang memiliki referensi bacaan yang banyak yang disediakan baik oleh sekolah, maupun oleh orang tuanya. Referensi bacaa yang dimaksud meliputi: buku paket, buku pendukung, modul, jurnal, hasil penelitian siswa/KIR, lembar kerja, majalah, dan slide-slide pembelajaran,” jelasnya.
Menurutnya, ini tentu menjadi kekuatan bagi dimensi siswa dikemudian hari, karena pada dasarnya pembelajaran itu menekankan kepada proses, bukan hanya pada hasil.
Agar proses itu berjalan baik dan bermutu, maka proses pembelajaran harus didukung oleh sumber belajar yang variatif.
Hasil penelitian di jurnal yang dipublikasikan di Finlandia, bahwa siswa yang kempuan literasinya baik dan tinggi, maka siswa tersebut akan memiliki wawasan luas, kognisi yang hebat, dan sikap mental.
Ketiga unsur di atas sangat dibutuhkan dalam proses pendewasaan menuju individu yang ideal.
Dan ketiga unsur diatas sangat berpengaruh terhadap kemampuan dia dalam merespon setiap kondisi yang dihadapinya Sekali lagi tugas institusi pendidikan (sekolah, PKBM, kursus, dll) adalah membekali peserta didik dengan kemampuan mentalias yang sempurna dalam merespon kondisi yang dihadapi. Sehingga dalam merespon kondisi apapun selalu berfikir ‘Win-win Solution’.
“Kata pakar komunikasi, bila semua siswa dibekali dengan konsep ‘Win-win Solution’ maka semua masalah akan diselesaikan dengan duduk bareng dan berdialog, segingga akan dipahami sudut pandang masing-masing dan saling memahami. Semoga hal ini bisa terlaksana,” pungkasnya. (red)


You may like

Siswi SMPN Satap 1 Tirtajaya Pelaku Perkelahian Lanjutkan Pendidikan Hingga Lulus

Karawang Monitoring Group Sorot Jabatan Plt Kadisdikpora

Disdikpora Karawang Siapkan Beasiswa Kuliah ke China, Begini Cara Seleksinya

Disdikpora Apresiasi Al Irsyad Al Islamiyyah Karawang Gelar Workshop Hadirkan Kampus ITB

PGRI Desak Pemkab Karawang Segera Cairkan TPG yang Nunggak Selama 3 Bulan

Tujuh SDN di Kecamatan Majalaya Dapat Bantuan Sarpras dari Pemkab Karawang
Pos-pos Terbaru
- Gebrakan Baru! PT Ocean Nusantara Bahari Siap “Sulap” Sungai Musi Jadi Tol Logistik Modern
- Dinas PRKP Buka UPTD di Rengasdengklok, Staf Desa: Baru Tahu Ada Kantor Cabang, Nggak Perlu Jauh ke Karawang
- Polres Karawang Amankan Pengedar Obat Keras Terlarang Di Cikampek, Ratusan Butir Pil Disita
- DPUPR Karawang Tindaklanjuti Usulan Pemdes Rengasdengklok Utara Atasi Banjir
- Menteri PKP dan Pimpinan Daerah Tinjau Proyek HWB Purwakarta: Terobosan Hunian Layak bagi MBR






