Connect with us

Regional

Bergantung Pada APBD, Pertumbuhan Ekonomi di Subang Sangat Lamban

Published

on

INFOKA.ID – Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Subang dinilai sangat lambat. Hal itu terbukti dalam indeks pertumbuhan ekonomi Kabupaten Subang dalam tenggang waktu 2016 hingga 2019.

Seperti dipaparkan ekonom ternama di Kabupaten Subang, Gugyh Susandy, yang merupakan guru besar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Suta Atmadja Kabupaten Subang, pertumbuhan ekonomi di Subang cenderung lamban karena sangat bergantung pada keuangan pemerintah daerah.

“Misalnya, mereka para pengusaha atau kontraktor juga hanya memanfaatkan proyek dari anggaran pemerintah, bukan proyek yang didapat dari pihak swasta,” ujar Gugyh seusai kegiatan seminar di Grant Hotel, Jalan Jenderal Achmad Yani Kabupaten Subang, Kamis (18/3/2021), seperti dikutip dari TribunJabar.id.

Menurut data BPS Kabupaten Subang perekonomian Kabupaten Subang periode 2016-2019 ekonomi, Kabupaten Subang berdasarkan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) tumbuh di atas 4 persen, yakni sebesar 4,27 persen pada tahun 2019.

Selanjutnya pada 2020, laju pertumbuhan ekonomi berdasarkan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) pertumbuhan ekonomi Kabupaten Subang pada tahun 2016 tumbuh di angka 5,40 persen, namun di tahun 2019 pertumbuhan ekonomi turun diangka 4,27 persen.

Tidak hanya itu, Gugyh mengungkap, kecenderungan ketergantungan para pengusaha terhadap APBD tersebut yang turut memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Karena, swasta seharusnya ikut mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi dengan tidak mengandalkan APBD.

“Seharusnya pengusaha swasta jangan selalu mengandalkan pasar pemerintah, yang dasarnya hanya dari APBD. Tapi juga harus bisa merambah pasar swasta lagi,” ucapnya.

Masih dijelaskan Gugyh, jika di suatu daerah pertumbuhan ekonominya masih mengandalkan APBD seperti Kabupaten Subang, justru pertumbuhan ekonomi daerah tersebut cenderung lamban.

Padahal, menurut Gugyh, dari data terbaru BPS Jawa Barat, Kabupaten Subang menunjukkan angka daya beli masyarakat yang tinggi.

“Di level Kabupaten se-Jawa Barat, Subang ini berada di peringkat ketiga. Lalu kenapa pertumbuhan ekonomi rendah, kemungkinan lainnya bisa disebabkan masyarakat tidak membeli prodak lokal Subang,” ucapnya.

Hal itu, kata Gugyh, turut serta memperlamban pertumbuhan ekonomi di Subang.

“Pemerintah harus gencarkan kampanye membeli produk lokal Subang, sehingga uang keluar dari masyarakat tidak keluar dari Subang. Sebetulnya masyarakat Subang ini cukup komsumtif,” ucapnya. (*)

Sumber: TribunJabar.id

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement