Connect with us

Regional

“Seperti Desa Tertinggal!”​Terisolasi! Listrik Lumpuh & Sinyal Putus, Desa Rantau Kroya Kembali ke Zaman Kegelapan!

Published

on

MUBA – Kondisi mencekam menyelimuti Desa Rantau Kroya, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Sudah tiga hari berturut-turut, desa ini lumpuh total akibat pemadaman listrik berkepanjangan yang tak kunjung menemui solusi. Krisis ini memicu reaksi keras dari tokoh masyarakat sekaligus mantan Anggota DPRD Provinsi Sumsel periode 2019-2024, Marzuki, SE.

​”Seperti Desa Tertinggal!”

​Pria yang akrab disapa Zuki ini mengecam keras kelalaian pihak terkait yang seolah melakukan pembiaran atas penderitaan warga. Menurutnya, pemadaman ini bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan pengabaian terhadap nadi kehidupan masyarakat.

​”Laporan masyarakat sudah membanjiri saya. Ada apa sebenarnya?

Kenapa sampai tiga hari listrik dibiarkan mati total? Aktivitas warga lumpuh, komunikasi putus. Kita seperti dilemparkan kembali ke zaman desa tertinggal!” tegas Marzuki dengan nada bicara tinggi melalui sambungan telepon, Sabtu (4/4/2026) malam.

​Putra dari tokoh legendaris Muba, almarhum A. Rifai (Kuyung Kritis) ini mendesak Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin untuk segera bertindak nyata dan tidak menutup mata atas ‘kiamat kecil’ yang menimpa warga Rantau Kroya.

​”Bekakap, Bekabe: Rantau Kroya Jadi Desa Mati”

​Kondisi di lapangan digambarkan sangat memprihatinkan. Nang Oyok, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan bahwa sejak Rabu, 1 April 2026, warga benar-benar terisolasi dari dunia luar.

Dampaknya sangat sistemik, ​Komunikasi Lumpuh Total Warga tidak bisa mengisi daya ponsel (charging), sementara akses ke desa tetangga yang memiliki listrik tergolong sangat jauh.

​Sinyal Hilang:

Meskipun warga memiliki cadangan baterai, jaringan seluler hilang total karena menara pemancar (tower) berhenti beroperasi akibat ketiadaan arus listrik.

​Atmosfer Mencekam: Saat malam tiba, desa berubah menjadi sunyi senyap dan gelap gulita layaknya desa tak berpenghuni.

​”Yang jelas selama mati lampu ini kami Bekakap (gelap gulita) dan Bekabe (meraba-raba). Kalau keluar rumah, suasananya sunyi sekali seperti desa mati. Senyap,” keluh Nang Oyok yang didampingi rekannya, Cikman.

​Desakan untuk Pemkab Muba

​Kini, masyarakat Rantau Kroya hanya bisa menggantungkan harapan pada kebijakan Pemerintah Daerah. Mereka menuntut perbaikan instan agar roda ekonomi dan interaksi sosial tidak semakin terpuruk.

​”Kami meminta Pemerintah Musi Banyuasin segera turun tangan. Jangan biarkan kami terus-menerus dalam kondisi lumpuh dan terisolasi seperti ini,” pungkasnya.
​(Syaiful Jabrig)