Connect with us

Artikel

NU Karawang, Nyaring Jelang Suksesi Tapi Sunyi dalam Esensi

Published

on

INFOKA.ID – Tokoh-tokoh hebat zaman dulu, semissal Hadratus Syeikh Hasyim Asyari sudah pasti tidaklah reaktif dan kagetan (latah) saat mendirikan sebuah organisasi. Pertimbangan matang dan misi besarnya adalah menghidupkan organisasi agar mampu menghidupi jamaah.

Meski bukan pekerjaan mudah, namun mengejewantahkan Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang mendarah daging dalam mengamalkan habluminallah serta habluminannas, adalah merupakan proses yang mesti dilalui oleh para pengurus dan jamiyah Nahdhatul Ulama.

Menyongsong gelaran Konfercab NU Karawang, yang salahsatu agendanya yakni penentuan nahkoda organisasi (ketua tanfidz), maka sebagai bagian dari Kader Muda Nahdhiyin, ijinkan saya untuk menyampaikan buah pemikiran:

Pertama, figur ketua selain mampu membentengi jamaah dari infiltrasi dan invasi ajaran-ajaran radikal intoleran, yang lebih penting dalam mengisi masa kepemimpinannya adalah harus memiliki orientasi pemberdayaan ekonomi ummat, serta mendesain formasi kepengurusan yang mayoritas diisi oleh kaum Nahdhiyin dari kalangan pelaku ekonomi.

Pengurus NU mesti menjadi “muharik” ekonomi ummat, terutama bagi jamiyah NU. Betapa tugas manusia di muka bumi ini dituntut untuk beribadah kepada Allah Swt dan juga ikhtiar untuk mencapai kemapanan. Sebagaimana pesan penting dalam sebuah keterangan, bahwa ketika kefakiran masuk melalui pintu rumah, maka keimanan akan terdorong keluar lewat jendela.

Kedua, setiap warga Nahdhiyin berhak untuk menjadi pengurus atau ketua cabang sekalipun. Tapi alangkah eloknya jika pucuk kepemimpinan dipercayakan kepada sosok non partisan, bukan pengurus partai politik.

Semangat ini didasari pada pengalaman perhelatan kontestasi politik ketika NU mengambil sikap berpihak atas dasar kemaslahatan ummat, namun tetap diasumsikan dan dituduh bermain politik praktis dan menghianati khittah 1926. Sehingga lambat laun marwah NU tergerus oleh pembangkangan dari akar kulturalnya sendiri.

Sederhana menyimpulkannya. Dulu, di Pilkada 2015, ketua PCNU saat itu, H. Marjuki didorong tampil sebagai calon Bupati Karawang, dan selanjutnya di Pilkada 2020 kemarin, Ketua PCNU Karawang tanpa tedeng aling-aling menggerakkan mesin organisasi untuk kemenangan salahsatu cabup.

Bukan soal menggugat hasil akhir dari ijtihad politik yang belum memuaskan. Namun case tersebut akhirnya merusak sinergisitas antara ormas dengan pemda, serta mengganggu keseimbangan relasi dan peran NU sebagai ormas Islam terbesar yang sangat dibutuhkan dalam mengawal produk kebijakan pemerintah agar tetap berorientasi pada kepentingan ummat.

Tentu sebagai warga yang mencintai NU lahir bathin, kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi. Warga nahdhiyin yang punya niat membesarkan NU cukuplah mengambil posisi-posisi kepengurusan lain, diluar jabatan Ketua Tanfiz.

Diimbangi, Ketua Tanfizd PCNU Karawang ke depan harus dari sosok yang kompeten dari segi keaswajaan, mampu mengelola dan memodernisasi lembaga, adaptif terhadap kemajuan zaman dan pengembangan ekonomi, pekerja keras dalam membentengi jamaah dari ajaran radikal intoleran, dan tidak gehgeran untuk urusan politik kekuasaan.

Selamat berkonfercab warga Nahdhiyin Karawang. Utamakan musyawarah & Smoga menghasilkan kepengurusan yang lebih maju. (*)

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement
Advertisement