Connect with us

Nasional

Kemenkes Ungkap Penyebab Anak Mengalami Stunting

Published

on

INFOKA.ID – Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Maria Endang Sumiwi mengungkapkan ada sejumlah kondisi yang menyebabkan kondisi stunting pada anak.

Menurut Maria, gangguan pertumbuhan dimulai dengan terjadinya weight faltering atau berat badan tidak naik sesuai standar.

“Anak-anak yang weight faltering apabila dibiarkan maka bisa menjadi underweight (berat badan kurang) dan berlanjut menjadi wasting (penurunan berat badan). Ketiga kondisi tersebut bila terjadi berkepanjangan maka akan menjadi stunting,” ujar Endang dalam siaran persnya, Sabtu (28/1/2023).

Dia menyampaikan, apabila ingin menurunkan angka stunting ada empat masalah gizi yang harus diperhatikan. Setelah empat masalah gizi tersebut teratasi, penurunan prevalensi stunting akan terjadi.

“Kalau mau menurunkan stunting maka harus menurunkan masalah gizi sebelumnya yaitu weight faltering, underweight, gizi kurang, dan gizi buruk. Kalau kasus keempat masalah gizi tersebut tidak turun, maka stunting akan susah turunnya,” tegasnya.

Dia menjelaskan, pencegahan stunting yang lebih tepat harus dimulai dari hulu yaitu sejak masa kehamilan sampai anak umur 2 tahun atau 1.000 hari pertama kehidupan.

Pada periode setelah lahir yang harus diutamakan adalah pemantauan pertumbuhan yang dilakukan setiap bulan secara rutin.

“Dengan demikian dapat diketahui sejak dini apabila anak mengalami gangguan pertumbuhan,” katanya.

Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting sebesar 2,8 persen pada 2022 dibandingkan dengan 2021.

“Angka stunting tahun 2022 turun dari 24,4 persen (tahun 2021) menjadi 21,6 persen. Jadi turun sebesar 2,8 persen,” ungkap Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Syarifah Liza Munira.

Menurutnya, untuk dapat mencapai target 14 persen di tahun 2024 diperlukan penurunan secara rata rata 3,8 persen per tahun.

Syarifah mengungkapkan meski angka stunting menurun, angka balita wasting dan underweight mengalami peningkatan.

Angka wasting naik 0.6 persen dari 7,1 persen pada 2021 menjadi 7,7 persen pada 2022 Sementara angka underweight naik 0,1 persen dari 17,0 persen pada 2021 dan 17,1 persen pada 2022.

Kemudian pada kasus balita overweight terjadi penurunan 0,3 persen dari 3,8 persen tahun 2021 menjadi 3,5 persen pada 2022. (*)