Regional
Dampak El Nino: Empat Kecamatan di Karawang Kesulitan Air Bersih, 1.000 Hektar Sawah Kekeringan
Published
3 tahun agoon
By
Redaksi
INFOKA.ID – Dampak dari musim kemarau yang berkepanjangan, membuat sejumlah daerah di Kabupaten Karawang, mengalami kekeringan.
Dampak dari El Nino menyebabkan empat kecamatan di Kabupaten Karawang kini kesulitan air bersih dan 1000 hektare sawah di daerah tersebut dilanda kekeringan.
Empat kecamatan yang mengalami kesulitan air bersih tersebut yakni Kecamatan Ciampel, Tegalwaru, Telukjambe Barat dan Pangkalan.
Hal itu berdasarkan data yang diungkap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang.
“Jadi wilayah yang saat ini terdata di kita yang terdampak El Nino yang menyebabkan keringnya sumber mata air disana,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ferry Muharam, Rabu (30/8/2023).
Menurutnya, di wilayah Kecamatan Ciampel mengalami kekeringan sudah hampir 3 bulan. Untuk beberapa lokasi kekeringan tersebut, pihaknya selalu rutin distribusikan air ke lokasi tersebut.
“Ciampel itu sudah mengalami kekeringan sejak tanggal 17 Juni 2023 hingga sekarang,” katanya.
Ferry mengatakan, pihaknya sudah melakukan pendistribusian air bersih keempat Kecamatan tersebut. Total sudah 74 ribu liter air bersih didistribusikan mulai Juni hingga Agustus 2023.
“Kita sudah mengerahkan mobil tanki air ke 4 kecamatan tersebut. Dengan jumlah keseluruhan sebanyak 74 ribu liter air bersih selama bulan Juni sampai Agustus 2023,” jelasnya
Dia juga mengatakan, pihaknya mengerahkan satu unit mobil tanki kapasitas 5 ribu liter di Kecamatan Tegalwaru dan Pangkalan guna kesiapsiagaan memburuknya dampak El Nino di Karawang Selatan.
Selain itu, kekeringan juga berdampak pada area pertanian. Lebih dari 1.000 hektar sawah mengalami kekeringan.
Sawah kekeringan itu di antaranya Kecamatan Pakisjaya 50 hektare, Banyusari 600 hektare, dan sebagain kecamatan Jatisari.
“Sudah ada seribuan hektare sawah yang mengering,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Karawang, Asep Hazar.
Ia mengatakan kekeringan tidak melulu disebabkan akibat perubahan iklim, tapi karena saluran irigasi mengalami sedimentasi.
Misalnya di Pakisjaya, di Kecamatan tersebut saluran irigasi dipenuhi eceng gondok dan mengalami pendangkalan. Akibatnya air tidak bisa mengalir ke petakan-petakan sawah.
Untuk mengatasi sedimentasi, kata Asep, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melakukan pengerukan. Hanya saja pengerukan di beberapa titik ada yang tidak bisa dilakukan dengan alat berat karena harus melintasi pemukiman.
“Kami melakukan secara manual dengan melibatkan kelompok-kelompok tani, pemerintah desa, kecamatan, dan Dinas PUPR,” ujar Asep. (*)

You may like

PHE ONWJ Bergerak Cepat Respons Laporan Nelayan Soal Gelembung di Perairan Karawang

Proyek Kandang Ayam Cuma ‘Izin Desa’, Ibe Sentil Dinas Pertanian Karawang Soal Amanat Perda LP2B

Respons Cepat Polisi dan Warga Berhasil Amankan Terduga Pelaku Dugaan Pencurian Handphone di Telukjambe Barat

Ratusan Paket Nasi Putih MBG Di SDN Karyasari Tidak Dikonsumsi, Minta Ganti Roti Burger

Pertama di Jabar, Pemkab Karawang Gratiskan Modul Pembelajaran SD-SMP dan Hapus Biaya LKS

DPRD Karawang Matangkan Raperda RPIK Libatkan KADIN dan UNSIKA
Pos-pos Terbaru
- PHE ONWJ Bergerak Cepat Respons Laporan Nelayan Soal Gelembung di Perairan Karawang
- Proyek Kandang Ayam Cuma ‘Izin Desa’, Ibe Sentil Dinas Pertanian Karawang Soal Amanat Perda LP2B
- Respons Cepat Polisi dan Warga Berhasil Amankan Terduga Pelaku Dugaan Pencurian Handphone di Telukjambe Barat
- Ratusan Paket Nasi Putih MBG Di SDN Karyasari Tidak Dikonsumsi, Minta Ganti Roti Burger
- Pertama di Jabar, Pemkab Karawang Gratiskan Modul Pembelajaran SD-SMP dan Hapus Biaya LKS







