Connect with us

Regional

Bank Sampah Induk Al-Firdaus, Bergerak Dengan Semangat Bersih Pasti Untung

Published

on

KARAWANG – Bank sampah Al-Firdaus kini resmi menjadi bank sampah induk dibawah Yayasan Assolahiyah Kecamatan Cilamaya Kulon konsisten melakukan revolusi mental dalam pengelolaan sampah yang terdata, terlacak, tertelusuri dan membangun sikular ekonomi secara komprehensif dari hilir ke hulu.

Peresmian ini dihadiri oleh Kepala Desa Muktijaya, Sawa Isyirot, pemilik Korwilcambidik Cilamaya Kulon. Kepala desa dan penilik berjanji akan membantu untuk bersama mensosialisasikan tentang bank sampah ini ditiap sekolah dan kepala desa di masing-masing wilayah sekitar.

Pengelola Bank Sampah Induk Al-firdaus, Siti Marini menjelaskan, bahwa hadirnya Bank Sampah Induk Al-Firdaus memberikan semangat baru bagi warga lingkungan sekitar, Aktivis Lingkungan, Pengurus Bank Sampah Unit, para pimpinan sekolah dan lainnya.

“Pola pendekatan Bank Sampah Induk Al-Firdaus dengan model komunikasi kearifan lokal dan pendekatan yang humanistik di setiap proses transaksi jual-beli maupun edukasi,” tuturnya

Dikatakan, Bank Sampah Al-Firdaus telah 6 tahun beroperasi dalam mengelola sampah. Rini menjelaskan, tujuan didirikannya bank sampah induk ini adalah agar bank sampah unit bisa beroperasi dalam mengelola sampah yang tidak ekonomis contohnya adalah penjualan sampah kresek.

Bank sampah induk menampung sampah-sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis tapi sangat merusak lingkungan.

“Saat ini sudah ada 8 bank sampah unit itu di Desa Pasirukem, Tegalurung, Sukamulya, Bayur Lor, Bayur Kidul, Jarong, Langgen Sari dan Pasirjaya,” terangnya.

Diakuinya, partisipasi masyarakat Kecamatan Cilamaya Kulon semakin meningkat dalam pengelolaan sampah-sampah menjadi berkah, dan membangun kolaborasi dengan Bank Sampah Induk Al-Firdaus.

Menurut Rini, Bank sampah induk ini adalah salah satu program untuk mempermudah pembelajaran pengelolaan sampah pada peserta didik. Dengan adanya bank sampah peserta didik lebih mudah memahami cara pengelolaan sampah yang baik.

“Yang terpenting adalah pembiasaan peduli lingkungan dan pembentukan karakter peserta didik melalui kurikulum pengelolaan sampah yang telah Al-Firdaus susun sebelumnya.
Kepsek Al-Firdaus berharap dengan adanya bank sampah induk lebih banyak lagi bank sampah unit yang terbentuk baik yang dibawah lembaga pendidikan maupun lainnya,” ucapnya.

“Dengan adanya bank sampah induk ini akan dapat mengelola sampah yang tidak ekonomis yang tadinya hanya dibuang atau dibakar. Dengan banyaknya bank sampah unit maka akan lebih banyak lagi masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan sampah,” pungkasnya.

Meskipun demikian, perhatian dari pemerintah Kabupaten Karawang masih sangat dibutuhkan untuk memenuhi segala peralatan penunjang seperti alat angkut yang memadai untuk mobilisasi pengangkutan antar desa dan gudang sampah.

“Kondisi gudang sampah juga baru dibikin atap itupun kecil jadi klu bank Sampah unit udah seluruhnya setor ga akan tertampung. Sampah Kresek itu diambil oleh penampung dari Bandung setelah mencapai 2-3 ton jadi artinya kapasitas gudang kita harus bisa menampung jumlah itu sebelum dibawa ke Bandung.Ini belum termasuk sampah lainnya yang volumenya lebih besar,” ucapnya. (adv)

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement