Connect with us

Regional

Selama 7 Bulan Terakhir 1.175 Warga Tasikmalaya Terjangkit DBD, 21 Meninggal Dunia

Published

on

INFOKA.ID – Selama kurun waktu kurang lebih tujuh bulan sejak Januari 2022 hingga Juli 2022 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya tercatat ada 21 warga yang meninggal dunia akibat DBD. Sementara jumlah total kasus DBD ini mencapai angka 1.175 orang.

Kasus DBD menyebar di 69 kelurahan yang ada di Kota Tasikmalaya dan menyasar semua kalangan baik anak-anak mau pun dewasa.

“Kasus DBD di data kami sudah 1.175 kasus. Kasus kematian itu sudah 21 orang. Dari total yang meninggal itu, dewasa empat orang dan sisanya anak. Mayoritas memang anak,” jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra dilansir Detikcom, Selasa (12/7/2022).

Asep menjelaskan, saat ini tinggal 9 warga yang masih dirawat di beberapa rumah sakit akibat DBD. Penyakit ini paling banyak menyebar di 7 dari 10 kecamatan.

Ia mengatakan jumlah paling tinggi di Kecamatan Tawang 170 kasus, Mangkubumi 163 kasus, Bungursari 139 kasus, Cibeureum 136 kasus, Kawalu 135 kasus, Cihideung 113, dan Cipedes 104 kasus.

“Sisanya di bawah 100 kasus,” ucap Asep.

Namun, untuk urutan jumlah kematian di Indonesia, ia belum mengetahui berada di urutan berapa. Sebab, hingga kini datanya belum muncul.

“Saya belum tahu, tapi kalau jumlah kasus kita peringkat 9 di Jawa Barat,” kata Asep.

Dia mengaku terus berupaya menekan penyebaran penyakit mematikan ini dengan berbagai upaya. Mulai dari pemberantasan sarang nyamuk hingga edukasi ke masyarakat.

“Yang jadi miris itu, di setiap kasus positif dan meninggal, dalam rumahnya ditemukan jentik nyamuk. Itu kan berbahaya,” kata Asep.

Apalagi upaya pengasapan atau fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Fogging tak efektif memberantas jentik atau sarang nyamuk di suatu wilayah yang biasanya ada di dalam atau sekitar rumah.

Dia juga menyesalkan banyak masyarakat yang masih abai terhadap upaya pemberantasan sarang nyamuk.

“Padahal fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, jika jentiknya masih ada tetap potensi penyebaran sangat besar,” kata Asep. (*)

Sumber: Berbagai sumber