Connect with us

Nasional

Mentan: Indonesia Masih Punya Cadangan Beras 10 Juta Ton

Published

on

INFOKA.ID – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, stok beras nasional saat ini masih aman. Cadangan beras nasional pun bahkan masih sebanyak 10 juta ton.

“Beras kita masih ada, kita punya cadangan sampai 10 juta ton,” kata Mentan dilansir Antara, Selasa (4/10).

Selain itu, kata dia, dalam waktu dekat juga akan ada musim panen. Syahrul pun menegaskan, neraca ketersediaan beras nasional masih baik.

“Ini pun masih mau panen, walaupun nanti panen kedua, ini nanti Februari lagi tahun depan baru panen besar. Panen-panen ini bukan panen yang sedikit. Tetapi ketersediaan neraca kita oke,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengatakan dinamika kenaikan harga beras bisa terjadi, mengingat adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Mentan menyebut, bersama dengan Menteri Perdagangan dan Badan Pangan Nasional akan tetap bekerja menjaga ketersediaan beras.

“Dinamika harga tentu saja ada, karena harga BBM dll. Nah itu harus disikapi secara bersama,” kata dia.

Syahrul bahkan mengingatkan bahwa cadangan beras Indonesia merupakan yang terbaik di dunia.

Terlebih Indonesia pada pertengahan Agustus lalu mendapatkan penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) atas keberhasilan yang dinilai mencapai swasembada beras dan meningkatkan sistem ketahanan pangan dengan baik.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian produksi beras nasional dari tahun 2019 konsisten berada pada level 31,3 juta ton, memenuhi kebutuhan beras nasional sebesar 30 juta ton per tahun.

Selain IRRI, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) juga turut mengapresiasi sistem ketahanan pangan di Indonesia yang tangguh di tengah krisis pangan dan ketegangan geopolitik.

Mentan mengaku optimistis cadangan beras nasional tetap terjaga meskipun lahan pertanian padi di Kabupaten Sumba Tengah sempat dilanda serangan hama belalang beberapa waktu lalu. Pasalnya Syahrul meyakini bahwa serangan hama itu bersifat siklus musiman.

“Belalang besar yang mutasi dari Perth cukup besar itu memang cukup kagetkan kita karena jumlahnya jutaan tapi yang begitu cycle, karena perputaran virus kan lagi berkembang,” katanya.

Syahrul meyakini bahwa persoalan semacam serangan hama menjadi salah satu hal yang memang harus dipetakan oleh ia beserta jajarannya di Kementerian Pertanian.

“Ya di pertanian gitu memang, panas sedikit ada masalah, hujan dikit jadi antisipasi, jadi mapping kita yang harus kuat,” ujarnya.

Oleh karena itu Mentan menjelaskan bahwa ia bersama Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dan jajaran Badan Pangan Nasional terus memantau perkembangan komoditas pangan, khususnya beras, hingga ke lapangan mengingat dinamika harga pasti ada berbarengan dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Ini masih mau panen, walau panen kedua. (Kalau) Februari panen besar, ini panen kecil. Dinamika harga karena BBM ada, itu yang disikapi bersama. Saya dengan Mendag dengan Badan Pangan Nasional sampai ke lapangan, saya di produktivitasnya,” tutup Mentan Syahrul. (*)

Sumber: Antara

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement