Connect with us

Regional

Ketua Umum AMKI: Bela Negara Harus Dimaknai Nyata di Era Digital

Published

on

JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, Tundra Meliala menegaskan, bahwa semangat bela negara perlu dimaknai secara lebih luas dan kontekstual seiring perkembangan tantangan kebangsaan di era digital.

Hal tersebut disampaikan Tundra bertepatan dengan Peringatan Hari Bela Negara ke-77 Tahun 2025 yang jatuh pada 19 Oktober, dengan mengusung tema ‘Teguhkan Bela Negara untuk Indonesia Maju’.

Menurut Tundra, kemajuan Indonesia tidak lahir dari kondisi yang serba mudah, melainkan dari daya tahan bangsa yang ditopang oleh kesiapsiagaan, disiplin, serta ketangguhan kolektif dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

“Ancaman terhadap negara saat ini tidak lagi hanya berbentuk fisik, tetapi juga hadir dalam wujud serangan siber, disrupsi teknologi, manipulasi informasi, radikalisme, polarisasi sosial, hingga bencana alam yang kian sering terjadi,” kata Tundra dalam keterangannya.

Ia menilai kondisi tersebut menuntut pemaknaan baru terhadap bela negara, yang tidak cukup dimaknai secara simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Hari Bela Negara tahun ini, lanjut Tundra, juga bertepatan dengan musibah kemanusiaan yang menimpa sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Wilayah-wilayah tersebut memiliki peran historis penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Sejarah mencatat Aceh sebagai Daerah Modal pada masa awal kemerdekaan. Nilai solidaritas dan kesediaan untuk saling menopang di saat krisis inilah yang menjadi fondasi ketahanan nasional,” jelasnya.

Tundra juga menyoroti pesan Presiden Prabowo Subianto dalam Peringatan Hari Bela Negara ke-77, yang menekankan bahwa cinta tanah air harus diwujudkan melalui tindakan konkret, seperti membantu korban bencana, menjaga ruang digital dari hoaks, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, serta berkontribusi dalam pembangunan sesuai peran masing-masing.

Ia menilai pesan tersebut relevan dengan tantangan kebangsaan saat ini, khususnya di tengah derasnya arus informasi digital.

Dalam konteks tersebut, Tundra menekankan, peran strategis media dan warga digital. Media pers tetap berfungsi sebagai penjaga nalar publik dan pilar demokrasi, sementara masyarakat, termasuk pengguna media sosial dan konten kreator, telah menjadi aktor penting dalam ekosistem informasi nasional.

“Setiap konten yang diproduksi dan dibagikan memiliki dampak sosial. Ia bisa memperkuat kohesi kebangsaan, tetapi juga berpotensi memicu perpecahan jika tidak disertai tanggung jawab,” kata dia.

Oleh karena itu, bela negara di era digital, menurut Tundra, juga berarti menjaga ruang publik digital tetap sehat melalui literasi informasi, etika bermedia, serta kesadaran terhadap dampak sosial dari setiap unggahan.

“Bela negara hari ini bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di ruang nyata maupun ruang digital,” ujarnya.

Tundra optimistis Indonesia memiliki modal sejarah, sumber daya manusia, serta nilai gotong royong yang kuat untuk menghadapi tantangan global.

“Selama semangat kebersamaan dijaga dan setiap warga menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, Indonesia akan mampu terus bergerak maju dan bangkit menghadapi perubahan zaman,” pungkasnya. (rls)

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement