Connect with us

Nasional

BRIN: Sungai Citarum Wilayah Karawang Tercemar Mikroplastik

Published

on

INFOKA.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakanSungai Citarum bagian tengah yang terletak di Karawang, Provinsi Jawa Barat dicemari tumpahan berbagai mikroplastik.

Periset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Indra Setiadi mengatakan pengambilan sampel dilakukan saat musim hujan pada Februari sampai April 2022.

“Mikroplastik berupa pelet, film, fiber, dan fragmen dengan kelimpahan di air sebesar 102 partikel per meter kubik dan kelimpahan di sedimen sebanyak 602 partikel per kilogram,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (4/9/2023).

Cemaran mikroplastik tersebut pun terkandung di dalam ikan yang ada di Sungai Citarum. Misalnya seperti dalam saluran pencernaan ikan sapu-sapu yang mengandung 90 partikel per individu dengan ukuran rerata yang mendominasi pada air sedimen dan saluran pencernaan kurang dari 0,3 mm.

Mikroplastik masuk ke sungai melalui limpasan angin, limpasan hujan, dan saluran drainase serta degradasi sampah plastik in situ.

Mikroplastik mempunyai ukuran kurang dari 5 milimeter dengan batas ukuran bawah yang tidak ditentukan, namun pada umumnya menggunakan ukuran 0,33 milimeter.

Indra menuturkan pencemaran mikroplastik yang terjadi di daerah industri, pemukiman, dan daerah pertanian tidak berbeda secara signifikan.

BRIN melalukan penelitian itu untuk mengidentifikasi karakteristik dari bentuk dan ukuran, kemudian identifikasi polimer dan kelimpahan mikroplastik pada air, sedimen dan saluran pencemaran ikan sapu-sapu di Sungai Citarum bagian tengah.

Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun. Stasiun pertama ada di Wadas, Teluk Jambe Raya perwakilan industri; stasiun kedua terletak di Pasir Panggang, Teluk Jambe Timur perwakilan pemukiman padat penduduk; dan stasiun ketiga berada di Sumedangan, Teluk Jambe Timur perwakilan wilayah pertanian.

“Pengambilan sampel sedimen menggunakan sedimen core tube 2 inci. Sedangkan sampel ikan sapu-sapu diperoleh dari tangkapan nelayan setempat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Indra berharap masalah mikroplastik dari sumber baik primer maupun sekunder bisa segera diatasi agar meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan. (*)

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement