Connect with us

Ragam

PKM 2021, Fakultas Teknik Unsika Berikan Solusi Pelaku UMKM Melalui Penerapan Produk Ipteks

Diposting

pada

KARAWANG – Tim pengabdian kepada masyarakat dalam program Kemitraan Masyarakat tahun 2021 yang berasal dari fakultas teknik universitas singaperbangsa Karawang, memberikan solusi kepada pelaku UMKM melalui penerapan produk ipteks yang ditransfer.

Program kemitraan masyarakat tahun 2021 adalah bantuan hibah dari Kementrian Riset dan Teknologi atau Badan Riset Inovasi Nasional dalam pemberdayaan masyarakat untuk produk teknologi yang diterapkan.

Kegiatan ini diusulkan oleh 3 orang dosen yaitu Rianita Puspa Sari, S.T., M.T selaku ketua pengusul, Deri Teguh Santoso, S.T., M. T sebagai anggota pengusul 1 dan Rika Yayu Agustini S. P., M. Si selaku anggota pengusul 2.

Kegiatan ini juga dibantu oleh 3 orang mahasiswa seperti pada proses perancangan alat burner dan desain mesin briket yang dibantu oleh mahasiwa teknik mesin, dan mahasiswa lain dari teknik industri 18.

Alat burner dan mesin briket akan dihibahkan kepada mitra pengabdian kepada masyarakat yaitu UMKM Arang Batok Jaya (ABJ). Adanya program kemitraan masyarakat yang dilakukan oleh tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Singaperbangsa Karawang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan nilai tambah serta kreativitas UMKM.

Program kemitraan masyarakat bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang ada dengan solusi-solusi yang ditawarkan seperti penggunaan alat burner yang dapat memangkas biaya pembelian kayu bakar, mengefisiensikan waktu proses pembakaran dan mengurangi asap hasil pembakaran yang menyebabkan polusi.

Solusi lain yang ditawarkan yaitu penggunaan mesin briket untuk memanfaatkan sisa hasil limbah pembakaran menjadi briket. Briket yang dihasilkan dapat menambah nilai ekonomi dan diversifikasi produk bagi pemilik UMKM. Pendampingan penggunaan alat burner dan mesin briket juga akan dilakukan dengan memberikan buku panduan tata cara panduan penggunaan.

Pendampingan yang akan dilakukan secara langsung dalam perawatan produk ipteks yang ditransfer, serta dokumentasi berupa buku panduan dan video tutorial. Selain itu akan diberikan edukasi pembukuan arus kas dan pencatatan transaksi untuk UMKM dan juga edukasi dalam pemanfaatan digitalisasi dalam pembukuan maupun pemasaran.

Proses pembakaran coconut charcoal masih dilakukan dengan menggunakan drum sebagai alat pembakaran. Penggunaan drum untuk proses pembakaran memiliki kekurangan yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pembakaran batok kelapa dan harga drum yang mahal hanya dapat digunakan 2-3 kali proses produksi serta penggunaan drum sebagai alat pembakaran dapat menghilangkan energi pada proses pengarangan.  Sehingga diperlukan suatu alat yang lebih efisien untuk melakukan proses pembakaran coconut charcoal yaitu alat burner.
Alat burner ini merupakan alat yang berguna untuk melakukan proses pembakaran dengan memanfaatkan limbah oli bekas yang sudah tidak terpakai sebagai bahan bakarnya.

Alat burner dapat mempercepat proses pembakaran karena api yang dihasilkan dari alat tersebut dapat diatur secara stabil dan terus menerus.
Sisa pembakaran dari arang batok yang menghasilkan abu belum dimanfaatkan, sehingga menjadi limbah bagi masyarakat sekitar karena menghasilkan abu yang beterbangan dan merusak udara sekitar yang menyebabkan polusi tanah dan polusi udara.

Pengelolaan limbah dari sisa pembakaran dapat dilakukan dengan cara pembuatan briket dengan menggunakan mesin pencetak briket. Mesin briket dapat menghasilkan nilai tambah dari abu sisa pembakaran coconut charcoal menjadI briket yang dapat memiliki nilai jual sebagai bahan bakar. Mesin briket dapat digunakan untuk mencetak briket dari abu coconut charcoal tanpa menggunakna daya listrik. Keuntungannya yaitu bersifat portable sehingga pembuatan briket dapat dilakukan dimanapun. (rls)

Advertisement
Tinggalkan pesan

Balas Pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement