Connect with us

Regional

Petani Tembakau di Sumedang Terancam Gagal Tanam Akibat Kekeringan, DPKP: Belum Ada Laporan

Published

on

INFOKA.ID – Lahan untuk menanam tembakau berupa lahan bekas bercocok tanam padi di Desa Jembarwangi, Darmawangi, Mekarwangi, dan Marongge terancam gagal panen akibat kekeringan.

Para petani mengeluhkan kerasnya lahan dan tidak ada solusi penyediaan air untuk menggemburkan lahan itu.

Menggunakan pompa air malah menambah biaya. Dilakukan manual membuang tenaga. Dan mengandalkan air dari bendungan kecil Cibayawak, bendungan itu telah lama rusak.

Ketua Gapoktan Petani Tembakau Desa Jembarwangi, Inta Suminta, mengatakan bahwa petani tetap memaksakan menanam benih yang sudah disemai dan umurnya kelebihan masa tanam tanpa pengolahan tanah.

“Kering tak bisa dicangkul sama sekali, ditanam tanpa oleh lahan saja. Tapi kan riskan. Sedangkan bibit sudah lebih besar, lewat masa tanam, bakal gagal, tak akan tumbuh besar,” ujarnya, Selasa (6/6/2023).

Ia mengatakan jika musim kemarau ini masa tanam gagal, dapat dipastikan panen berkurang. Dan itu akan membuat pendapatan juga berkurang.

“Satu desa, Desa Jembarwangi saja sekali panen, nilai panen tembakau bisa Rp 3-4 miliar. Kalau gagal tanam, ya pasti besar kerugiannya,” katanya.

Sementara, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumedang menyebut belum menerima laporan adanya kekeringan yang berdampak pada susahnya pengolahan lahan penanaman tembakau.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumedang, Dudi Daryadi, mengatakan bahwa tidak terjadi kekeringan.

“Tidak ada kekeringan. Justru tembakau itu ditanam di musim kering. Petani hanya mengeluh lahan keras saja, cukup disiram air,” kata Dudi.

Dudi mengatakan, musim tanam tembakau biasanya dimulai setelah tiada hujan. Jadwalnya biasanya pada April, Mei, atau Juni.

“Tapi karena masih hujan, petani tidak menanam. Sayangnya, pada pertengahan Mei, kemarau melanda begitu terik, lahan menjadi keras,” kata Dudi.

Dia mengatakan, Dinas sejak dulu telah memberikan bantuan mesin pompa air kepada petani tembakau. Namun pemberian mesin tidak merata kepada semua petani, baru pada tataran kelompok.

Kekeringan yang terasa saat ini dikhawatirkan mengancam produktivitas tembakau sebab petani gagal tanam.

Kegagalan ini dipicu lahan belum siap tetapi benih sudah terlalu tua karena menunggu lahan disiapkan. Kondisi ini mengancam petani dengan perasaan bakal rugi miliaran rupiah. Tetapi, Dudi menyebut tidak akan separah itu.

“Tembakau saya kira tidak akan sejauh tadi lah ya. Memang air dibutuhkan tapi tidak banyak. Ada pompa air. Yang penting ada sumber airnya,” pungkasnya. (*)

Sumber: TribunJabar.id

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement