Connect with us

Regional

Petani Sukasari Karawang Menjerit: Krisis Air Menahun, Tak Pernah Tersentuh Bantuan Pompa dan Alat Pertanian!

Published

on

KARAWANG – Ratusan petani di Desa Sukasari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, meluapkan kekecewaannya akibat krisis air yang terus berulang setiap musim tanam. Masalah menahun ini diperparah oleh minimnya pengawasan distribusi air serta tidak adanya sarana prasarana penunjang dari Dinas Pertanian setempat.

Persoalan krusial ini menjadi pembahasan utama dalam Rapat Minggon rutin yang digelar di Kantor Desa Sukasari pada Rabu (14/10/2026).

Kepala Desa Sukasari, H. Nurhadiansyah, menegaskan bahwa warganya selalu dihadapkan pada konflik perebutan air setiap kali musim menanam padi tiba. Padahal, Desa Sukasari memiliki potensi lahan persawahan yang sangat luas, mencapai hampir 400 hektar lebih.

“Begini kang, setiap kami menghadapi musim menanam padi, sudah pasti menghadapi penyakit kesusahan datangnya air. Seharusnya, ketika musim menanam tiba, tidak pantas para petani di desa kami berteriak kekurangan air. Pasalnya, kondisi air di saluran irigasi sekunder itu lumayan besar dan cukup untuk mengairi area persawahan di sini,” ujar H. Nurhadiansyah dengan nada kecewa kepada awak media.

Menurutnya, akar masalah ini terletak pada dua hal utama. Pertama, kurangnya pengawasan dan ketegasan dari pihak Perum Jasa Tirta (PJT) II Rengasdengklok dalam mengatur pembagian debit air.

“Untuk Kepala Dinas PJT II Rengasdengklok, jangan hanya hadir kalau ada pekerjaan normalisasi atau mengikuti alat berat (beko) saja. Datang langsung ke lokasi area persawahan mana saja yang kesulitan air, bantu kepala desa,” tegasnya.

Persoalan kedua adalah hilangnya peran Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Pertanian dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di tengah masyarakat. Nurhadiansyah mengungkap, jangankan menghadiri Rapat Minggon di tingkat kecamatan, dalam Rapat Minggon di tingkat desa pun petugas PPL tidak pernah menampakkan diri.

“Kami meminta Kepala UPTD Dinas Pertanian melakukan sidak ke Desa Sukasari untuk melihat langsung apa yang dibutuhkan oleh para petani. Kami meminta pihak Dinas Pertanian dan PJT II Rengasdengklok memprioritaskan keberhasilan tani. Jangan sampai seperti ini terus, hampir setiap mau menanam padi masyarakat saling berebut air,” tuntut Kades Sukasari.

Senada dengan Kepala Desa, tokoh petani setempat, H. Dirja Sudirja, membenarkan potret buram sektor pertanian di desanya. Pria yang menggarap puluhan hektar sawah ini mengaku belum pernah sekali pun merasakan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah.

“Selama saya menjadi petani, belum pernah menerima bantuan yang disebut traktor atau mesin pompa air dari Dinas Pertanian. Padahal kami sering mendengar desa di kecamatan lain dapat program Mitra Cai, program pompanisasi, hingga pembuatan drainase irigasi. Tapi di desa kami, belum pernah ada bantuan apa pun,” ungkap H. Dirja.

Akibat tidak adanya pintu air pembagi dan minimnya fasilitas pompa, para petani terpaksa mengandalkan swadaya dan kekompakan seadanya. Minimnya infrastruktur ini bahkan sering memicu gesekan dan selisih paham antartetangga akibat berebut air.

H. Dirja pun mempertanyakan komitmen instansi terkait dalam menyukseskan program nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.

“Mana mau maju industri pertanian di Desa Sukasari kalau mereka tidak pernah hadir? Padahal ini sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto tentang swasembada pangan. Sekali lagi kami memohon kepada Kepala Dinas Pertanian, Pak Rochman, sudilah kiranya datang ke desa kami untuk melihat langsung kondisi riil di lapangan,” pungkas H. Dirja.(Mio)