Regional
Ironi “Kado” Perceraian di Hari Guru: Ketika Kemapanan Finansial Membuka Jalan Perpisahan
Published
6 bulan agoon
By
Redaksi
Oleh:Teten Suratman
Peringatan Hari Guru yang seharusnya menjadi momen perayaan profesi mulia, justru diiringi data mencengangkan. Angka perceraian yang tinggi di kalangan guru, khususnya di Jawa Timur seperti yang disoroti oleh Ibu Khofifah, membongkar realitas bahwa kesejahteraan guru tidak bisa diukur hanya dari tunjangan ekonomi semata. Fenomena ini adalah alarm keras yang menuntut refleksi mendalam dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat.
—
I. Beban Ganda yang Menghimpit Profesi Pendidik
Tingginya gugatan cerai di kalangan guru, di mana mayoritas diajukan oleh pihak perempuan, menunjukkan adanya tekanan berlapis yang disebut Beban Ganda (Ganda dan Bertambah).
1. Beban Profesional yang Kian Kompleks: Selain menjalankan tugas pokok mengajar, guru dibebani dengan administrasi yang rumit, tuntutan kurikulum yang terus berubah, hingga keharusan siap menghadapi ujian sertifikasi dan kenaikan pangkat. Ini menciptakan stres kerja yang konstan.
2. Beban Domestik yang Tidak Adil: Stabilitas finansial setelah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) memang meningkatkan posisi tawar guru perempuan. Namun, kemapanan ini seringkali tidak diikuti dengan pembagian peran yang adil di rumah tangga. Mereka menanggung beban sebagai pencari nafkah sekaligus pengelola utama urusan domestik, yang berujung pada kelelahan fisik dan mental (Burnout) parah.
—
II. Kemandirian Finansial Sebagai Pemicu Perceraian
Analisis data, termasuk temuan dari Pakar UM Surabaya (merujuk pada data 2025), mengungkapkan sebuah ironi: Peningkatan status dan pendapatan (sertifikasi/ASN/PPPK) menjadi pemicu perceraian, bukan penyebab utamanya.
Peningkatan pendapatan membuka jalan bagi guru perempuan untuk mengambil keputusan yang selama ini tertunda. Artinya, masalah mendasar dalam rumah tangga—seperti perselisihan, ketidakharmonisan, atau tidak adanya tanggung jawab dari pasangan—sudah ada, tetapi faktor ekonomi sebelumnya menjadi penghalang untuk berpisah. Setelah mapan dan mandiri secara finansial, mereka memiliki kekuatan dan kemerdekaan untuk memilih kebahagiaan dan kesehatan mental sebagai prioritas.
—
III. Rentannya Ketahanan Mental dan Perlindungan Hukum
Tekanan tidak hanya datang dari lingkup keluarga. Guru di Indonesia saat ini juga menghadapi kerentanan terhadap tekanan publik dan ancaman hukum (kriminalisasi).
1. Kasus Kriminalisasi: Upaya guru untuk mendisiplinkan siswa sesuai kaidah pendidikan seringkali direspon dengan pelaporan dan kriminalisasi oleh orang tua, seperti yang terjadi pada banyak kasus viral.
2. Dampaknya: Hal ini menciptakan iklim ketakutan yang masif, meruntuhkan otoritas guru di kelas, dan menyebabkan tekanan psikologis yang sangat besar. Kesejahteraan mental guru terganggu karena mereka harus berjalan di atas tali tipis kehati-hatian dalam setiap tindakan mendidik.
—
IV. Mendesak Solusi Kebijakan
Fenomena perceraian guru adalah cerminan kegagalan sistemik dalam menjaga keseimbangan kehidupan profesional dan pribadi. Oleh karena itu, INFOKA Karawang mendesak agar fokus pada kesejahteraan guru segera diperluas, mencakup tiga pilar utama:
1. Ketahanan Keluarga ASN: Menerapkan program penguatan ketahanan keluarga yang wajib dan mediasi pranikah/pernikahan yang lebih serius bagi seluruh ASN/PPPK, bukan hanya bersifat himbauan.
2. Dukungan Psikologis: Penyediaan layanan konseling profesional dan Employee Assistance Program (EAP) bagi guru di bawah Dinas Pendidikan, untuk membantu mereka mengelola stres kerja dan rumah tangga secara proaktif.
3. Perlindungan Hukum: Merevisi regulasi yang lebih kuat untuk memberikan imunitas hukum kepada guru saat menjalankan tugas mendidik dan mendisiplinkan siswa sesuai dengan etika dan kaidah pendidikan yang berlaku, sehingga meminimalisir risiko kriminalisasi.
Ini adalah momentum untuk menghadapi sisi gelap dari profesi mulia ini dan mencari solusi bersama. Kesejahteraan guru adalah fondasi dari kualitas pendidikan bangsa. Jika guru bahagia dan mentalnya kuat, siswa kita pun akan mendapatkan pengajaran yang optimal.(*)


Pos-pos Terbaru
- Bank BJB Karawang Berbagi Keberkahan Iduladha, Salurkan Sapi dan Domba untuk Masyarakat
- Wujud Kepedulian Sosial, Polres Karawang Gelar Jumat Berkah
- Dalih Antar Pulang Anak Mengaji, Pria diKarawang Tega Cabuli Bocah 5 Tahun
- Empat Saksi Sudah Diperiksa, Polres Karawang Tegaskan Kasus Kekerasan Seksual Anak Masih Berproses
- Primaya Karawang Expo 2026: Hadirkan 40 Dokter Spesialis dan Health Talk untuk Masyarakat



