Ragam
Hutan Sanggabuana Karawang Habitatnya Satwa Liar Khas Jawa
Published
2 tahun agoon
By
Redaksi
INFOKA.ID – Hutan Sanggabuana di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, memiliki keanekaragaman hayati luar biasa. Ada 123 jenis tumbuhan dari 43 Famili dan amfibi sekitar 16 spesies serta 31 spesies reptil.
Di hutan dengan status produksi seluas 400 hektar ini juga ditemukan fauna berlabel jawa diantaranya macan tutul jawa, kucing hutan jawa, elang jawa, owa jawa, dan surili jawa.
Satwa-satwa tersebut berumah di Sanggabuana. Namun, statusnya masuk daftar merah Lembaga Konservasi Dunia [IUCN]. Artinya, nasib satwa endemik berada di tubir kepunahan.
Hal itu berdasarkan pemetaan kawasan selama tiga tahun oleh Sanggabuana Conservation Foundation (SCF).
Adapun flora, SCF mengidentifikasi 123 jenis tumbuhan dari 43 famili. Jumlah itu sepertiga dari temuan flora di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang jaraknya sekitar 50 kilometer.
Salah satunya adalah burahol atau Stelechocarpus burahol. Tumbuhan ini berstatus ningrat, dulu digemari putri-putri keraton karena khasiat buahnya yang membikin tubuh wangi sepanjang hari.
Pohon itu juga dinilai memiliki filosofi penting bagi keraton. Tersirat makna ‘Adiluhung’ dan ‘manunggaling sedya kaliyan gegayuhan’ yang berarti kesungguhan meraih sesuatu yang mulia. Namun, karena identik dengan keraton, warga biasa menjadi segan menanam. Alhasil burahol menjadi sulit dicari.
Masih ada tanaman lain, semisal ficus. Tanaman tropis ini dikenal sebagai pioneer atau perintis yang digunakan sebagai indikator proses terjadinya suksesi hutan. Setidaknya ada 800 jenis ficus yang tersebar di seluruh dunia. Dan sebagian besar berada di daerah tropis.
Menariknya, SCF sudah mendata 23 jenis ficus. Hanya saja baru 8 jenis berhasil diidentifikasi, yaitu Loa [Ficus racemosa], Loa Gunung [Ficus hispida], Beringin [Ficus benjamina], Iprik [Ficus retusa], Ki Ampelas [Ficus ampelas], Kimeng [Ficus microcarpa], Awar-awar [Ficus septica], dan Bunut [Ficus glauca].
Koordinator SCF, Bernard T Wahyu Wiryanta, menyadari masih sedikitnya spesies yang diketahui dan tercatat. Meski sudah menginventarisir sekitar 16 ribu hektare, nyaris seluas Taman Nasional Gunung Ciremai.
“Berdasarkan Informasi yang dihimpun, Sanggabuana terbentang sepanjang 269 kilometer atau 29.400 hektar. Artinya baru separuh yang terpetakan dari total kawasan tersebut,” katanya.
Akan tetapi, pada lembah hutan Bernard dan kawan-kawan berhasil menemukan populasi amfibi sekitar 16 spesies dan reptil 31 spesies.
“Temuan ini dapat mendorong konservasi amfibi dan reptil yang masih terabaikan. Kajian herpetologi pun belum banyak dilakukan,” ujar Bernard.
Begitu juga dengan penemuan spesies kunci paling penting. Kupu-kupu raja helena atau Troides helena yang hidupnya butuh perhatian.
Kupu-kupu ini termasuk satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, serta masuk Appendix II dalam Convention on the International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna [CITES].
Orang mungkin hanya melihat kupu-kupu sebagai serangga. Padahal, dari kupu-kupu, seorang ahli matematika dan meteorologi pada 1961, Edward Norton Lorenz, menemukan Teori butterfly effect atau efek kupu-kupu.
Teori ini menggambarkan perubahan kecil yang memberikan dampak besar dalam jangka panjang untuk suatu peristiwa.
Jika dianalogikan, itu mirip satu kepakan sayap kupu-kupu di salah satu kawasan. Jika terjadi, akan berimplikasi pada perubahan unsur kehidupan di kawasan lain.
Sebagai contoh, ketiadaan kupu-kupu di suatu kawasan menandakan diversitas spesiesnya rendah. Itu saja hilang, bakal mengundang perubahan pola curah hujan, bencana alam ekstrem, dan anomali cuaca yang ujungnya mengganggu atau memengaruhi sirkulasi ekonomi.
Bernard membuktikan hal itu. Melalui ekspedisi Tjitaroem Twee Rivier Biodiversiteit, mereka menyasar sumber mata air di salah satu curug atau air terjun Cigentis.
Selama pendakian, ditemukan 95 mata air yang menambah debit air Sungai Cigentis hingga bermuara pada Sungai Cibeet. Sebelumnya, tercatat ada 339 titik mata air pada daerah aliran sungai [DAS] Citarum.
Ternyata, kawasan Sanggabuana turut berperan strategis menjaga suplai air baku bagi Jakarta melalui waduk Jatiluhur. Dari waduk yang sudah berusia 52 tahun itu, kebutuhan pangan negara juga diproduksi lewat aliran irigasi seluas 242 ribu hektar, termasuk bagi Karawang.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Karawang, luasan padi mencapai 95 ribu hektar. Panen dilakukan selama 2-3 musim itu, menargetkan produktivitas panen hingga 1,35 juta ton gabah kering panen [GKP] di tahun 2023.
Jika gabah kering dihargai Rp5.000 per kilogram, kebermanfaatan itu mampu menghasil potensi ekonomi setara Rp 6.1 triliun tiap tahun. Tak hanya itu, ada 77 ribu keluarga tani Karawang punya harapan hidup lebih panjang dengan ketersediaan air.
Belum lagi jasa lingkungan dari Gunung Sanggabuana, yang batas administrasinya terbagi 4 wilayah: Karawang, Bogor, Cianjur dan Purwakarta. Keberadaannya menjaga iklim mikro dan oksigen yang dihembus-hirupkan dari sepoi pepohonan.
Dan, perubahan itu mulai tampak. Di perbatasan hutan Sanggabuana terdapat pertambangan skala besar. Bernard menuturkan, perusahaan tersebut memang beroperasi dengan izin resmi. (*)

You may like

Optimalisasi Lahan Pertanian: Polres Karawang Pastikan Kawal Swasembada Pangan Nasional

Kapolres Karawang Turun Langsung Sukseskan Program Ketahanan Pangan

Tanam Jagung Serentak, Langkah Polres Karawang Kawal Ketahanan Pangan Daerah

Dukung Swasembada Pangan, Polres Karawang Perkuat Pilar Ketahanan Pangan

Aksi Nyata Polres Karawang Wujudkan Ketahanan Pangan

Lima Pemuda Diamankan Polres Karawang Usai Video Asusila Viral di Media Sosial
Pos-pos Terbaru
- Optimalisasi Lahan Pertanian: Polres Karawang Pastikan Kawal Swasembada Pangan Nasional
- Kapolres Karawang Turun Langsung Sukseskan Program Ketahanan Pangan
- Tanam Jagung Serentak, Langkah Polres Karawang Kawal Ketahanan Pangan Daerah
- Dukung Swasembada Pangan, Polres Karawang Perkuat Pilar Ketahanan Pangan
- Aksi Nyata Polres Karawang Wujudkan Ketahanan Pangan







