Connect with us

Regional

Anggota DPRD Karawang asal Dapil III Berharap Abrasi Pesisir Utara Segera Ditangani

Published

on

KARAWANG – Tak hanya banyaknya infrastruktur jalan yang buruk, tetapi abrasi pantai pun masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Karenanya, wajar jika masyarakat merasa termarjinalkan oleh kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang yang belum berpihak ke Wilayah Karawang Utara. Demikian ungkap Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Karawang, Pipik Taufik Ismail.

“Kenapa kami di DPRD selalu berteriak keras, karena kita merasa di Karawang Utara termarjinalkan, khususnya soal pembangunan. Ditambah jalan-jalan akses kabupaten, penghubung antar desa, masih banyak yang hancur, bahkan masih tanah,” ujar Wakil Rakyat asal Daerah Pemilihan (Dapil) III tersebut, kepada Infoka, Kamis (2/6/2022).

Pipik menambahkan, dalam upaya memetakan tracking-tracking solusi tentu perlu duduk bersama baik itu Legislatif dan Eksekutif. Sehingga ia berharap, persoalan Karawang Utara dapat terselesaikan dengan baik, termasuk penanganan Abrasi Pantai.

“Abrasi itu memang persoalan yang sudah berpuluh-puluh tahun. Setelah kita turun ke lapangan, memang kondisinya sangat menghawatirkan. Salahsatu solusi yang pernah disampaikan adalah pembuatan pancangan pemecah ombak,” paparnya.

Masih Pipik menambahkan, pemasangan pancang pemecah ombak bisa menjadi solusi awal mengatasi persoalan banjir rob yang dapat mengakibatkan abrasi pantai di wilayah Pesisir Utara Karawang tersebut.

“Kalau kita lihat, pancangan, itu kalau ada yang memecah ombak, tanah-tanah itu justeru bermunculan, jadi tanah timbul bisa berhektar-hektar,” terangnya.

Sambung masih Pipik menambahkan, selain solusi awal atasi abrasi pantai, tentu perbaikan-perbaikan jalan harus juga diperhatikan. Bahkan, langkah-langkah taktis Pihak Kecamatan dan Desa dalam upaya penanaman mangrove dan bakau, juga dapat menahan bibir pantai dari abrasi.

“Tapi yang pasti ini jangan dibiarkan terus, karena dari tahun 90’an waktu saya masih kecil, itu ribuan hektar sekarang sudah hilang. Dulu mah ada benteng-benteng Belanda, sekarang gak ada, ada beberapa sisa-sisa rumah tengah laut. Kurang lebih satu kilometer dari pantai ke laut itu dulu pemukiman, sekarang hilang,” pungkasnya. (cho)

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement