Connect with us

Regional

Warga Mulai Mengeluh, Askun Soroti Water Barrier Bundaran Mall Ramayana

Published

on

KARAWANG – Penutupan sebagian akses jalan di Bundaran Mall Ramayana dengan water barrier mulai dikeluhkan sejumlah warga. Penutupan ini disinyalir telah berlangsung sekitar dua tahun tanpa mengenal waktu alias 24 jam, kecuali jika ada rombongan pejabat lewat.

Penutupan akses jalan diakui, selain mengganggu aksesbilitas warga menuju pusat Karawang Timur dan Klari, juga membuat beban ekonomi (BBM) warga bertambah karena harus memutar arah lagi hingga ke depan Samsat Karawang.

Keluhan itupun akhirnya mendapat sorotan Pengamat Kebijakan Pemerintahan, H. Asep Agustian, SH. MH. atau yang akrab disapa Askun (Asep Kuncir).

Askun meminta kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Karawang untuk tidak buta dan tuli dengan keluhan-keluhan warga perihal water barrier yang ada di Bundaran Mall Ramayana.

“Kalau water barrier digunakan sebagai rekayasa mengurai kemacetan, itu sah-sah saja dan itu biasanya tentatif. Lah ini water barrier terpasang sudah hampir dua tahun dan hampir 24 jam. Memangnya di Bunderan Mall Ramayana 24 jam macet terus? Kan enggak,” ujarnya kepada Infoka, Kamis (17/6).

Askun menambahkan, saat ini Bunderan Mall Ramayana cenderung tidak selalu macet. Pasalnya, anak sekolah diliburkan karena daring pembelajarannya dan jemputan karyawan pun tidak melalui akses tersebut. Akses ke bunderan itu hanya sedikit macet ketika ada Kereta Api lewat dan lewatnya pun tidak setiap jam.

Dan water barrier digunakan boleh saja, ketika ada Perayaan Hari Besar, misalnya jelang Lebaran Idul Fitri, Hari Raya Natal dan Tahun Baru serta lainnya.

“Dishub bisa bayangkan enggak sih jika ada keluarga bawa pasien yang kondisinya darurat mau dibawa ke RS Hermina tapi aksesnya terganggu karena water barrier sehingga harus memutar arah sampai ke depan Samsat. Itu pun putaran depan Samsat kadang sering macet juga,” jelasnya.

Masih Askun menambahkan, Dishub harus segera merespon keadaan dan kondisi saat ini dimana semua sedang sulit. Jika memang Bunderan Mall Ramayana itu sudah tidak lagi difungsikan, maka lebih baik bundaran tersebut ditutup permanen atau pakai beton barrier, sehingga tidak perlu lagi ada bundaran.

“Tapi imbasnya seni kotanya sudah hilang ketika bundaran itu ditutup permanen,” terang Askun yang juga praktisi hukum itu.

Sambung masih Askun menambahkan, terlebih disayangkan adalah Dishub tampak terkesan diskriminatif terhadap warga perihal water barrier di bundaran tersebut. Yakni, ketika para pejabat melewati bundaran itu, maka water barrier-nya dibuka.

“Emangnya Bundaran Mall Ramayana milik pejabat doang. Lah pejabat mah enak, mobil dan BBM difasilitasi sama negara, lah ini warga apa-apa pakai uang pribadi juga bayar pajak,” singgungnya.

Lebih lanjut Askun menegaskan, jika memang Dishub membutuhkan tenaga SDM untuk ditugaskan membuka tutup water barrier di Bundaran Mall Ramayana, maka Dishub buka saja loker Tenaga Harian Lepas (THL).

“Saya minta solusi terbaik dari Dishub agar keluhan warga diakomodir. Sekali lagi, kalau memang terus menerus pakai waterbarier, ya mending tutup permanen saja,” pungkasnya. (cho)

Facebook

Pos-pos Terbaru

Advertisement
Advertisement