Connect with us

Regional

Ribuan Hektare Sawah di Karawang Alami Puso Akibat Banjir

Published

on

KARAWANG – Sekitar 8.865,20 hektare sawah di Karawang mengalami puso akibat bencana banjir.

Kepala Bidang Perkebunan dan Perlindungan Tanaman DPKP Karawang, Dadan Danny, mengatakan, pihaknya mencatat 8.865,20 hektar sawah di Kabupaten Karawang mengalami puso.

“Areal sawah yang puso itu terdiri atas areal sawah yang semai dan tanam,” kata Dadan, Senin (13/3/2023).

Ia mengatakan untuk areal persawahan semai yang mengalami puso mencapai 4.759,20 hektare. Sedangkan areal yang memasuki masa tanam dan mengalami puso akibat banjir seluas 4.106,00 hektare.

“Jadi total sebanyak 8.865,20 hektar mengalami kerusakan atau puso,” jelas dia.

Disebutkan kalau areal sawah yang terendam dan mengalami puso itu tersebar di 30 kecamatan sekitar Karawang. Untuk areal sawah yang puso, paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Cilamaya Kulon, Tempuran, dan Kecamatan Cilebar.

Petani Kampungsawah, Kecamatan Jayakerta, Karawang, meradang lantaran 50 hektar sawah gagal panen karena serangan hama. Mereka pun merugi.

Dadan mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan jumlah kelompok tani (Poktan) yang sawahnya mengalami kerusakan.

“Sekarang ini petani mendapatkan bantuan dari pihak Kementerian Pertanian saja,” ungkap dia.

Ia menambahkan, bantuan ini berupa benih padi sebesar 25 kilogram dan pompa air untuk 5 kelompok tani.

Menurutnya, pihaknya akan kembali mengajukan bantuan bibit kepada Kementerian Pertanian untuk semua bisa mendapatkan bantuan.

Sementara, Ketua Gapoktan Mekarjaya, Arip Munawir mengungkapkan, sebanyak 50 hektar sawah di desa Kampungsawah Kecamatan Jayakerta terserang sundep atau hama penggerek batang.

“Kalau tepatnya itu berada di Dusun Pasar,” kata Arip.

Ia menyampaikan, akibat serangan hama itu, petani harus melakukan tanam mundur kembali untuk melakukan penyulaman benih padi. Biayanya sampai Rp 3 juta. Itu belum biaya penyemprotan pestisida.

“Sawah yang saya urus seluas 3,7 hektar sudah mengeluarkan biaya tambahan untuk tandur ulang dan menyulam hampir Rp 3 juta,” katanya.

Arip menyebut, Sundep di Kampungsawah menyerang tanaman padi berumur 1 hingga 30 hari setelah tanam (HST). Ada juga menyerang tanaman padi 15 hingga 25 hari setelah semai (HSS).

“Kami merugi untuk musim tanam kali ini. Karena gagal tanam,” katanya. (*)

Sumber: Berbagai sumber