Regional
Harga Rajungan Turun hingga Pendakalan Muara, Ini Penjelasan Dinas Perikanan Kabupaten Karawang
Published
4 tahun agoon
By
Redaksi
KARAWANG – Harga rajungan di Kabupaten Karawang merosot tajam menjadi Rp 40 ribu per kilogram dari yang semula Rp 100 ribu per kilogram.
“Saat ini harga per kilogram rajungan di pasaran hanya Rp 40 ribu, dari yang semula bisa mencapai Rp 100 ribu lebih per kilogramnya,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan Karawang Abu Bukhari, Selasa (26/7/2022).
Bukhari mengatakan penurunan harga rajungan tidak hanya terjadi di Karawang, tetapi terjadi juga di sejumlah daerah lainnya.
Menurut dia, ekspor rajungan yang terhambat telah membuat harga komoditas rajungan anjlok di pasaran lokal.
Dia mengaku, pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab ekspor rajungan kini mengalami kendala. Namun yang pasti, hal itu membuat kondisi nelayan rajungan menjadi sulit.
“Kalau dikembalikan pada harga normal kebutuhan lokal, ya normalnya harga rajungan itu memang Rp 40 ribu kalau kebutuhan lokal. Harganya bisa tinggi karena ada permintaan dari luar,” katanya.
Dia mengatakan Dinas Perikanan Karawang sepenuhnya tidak bisa mengontrol mekanisme pasar.
Dia menegaskan Dinas Perikanan Karawang tidak bisa mengontrol mekanisme pasar. Proses ekspor itu dilakukan melalui pengepul atau agen, yang diteruskan ke pabrik.
Namun sejak bulan lalu, ekspor ke luar negeri berkurang, sehingga para eksportir akhirnya sulit untuk menerima pasokan rajungan dari nelayan.
“Ketika sekarang permintaan untuk ekspor itu kurang, mungkin saja penyebabnya faktor eksternal yang terjadi di dunia global. Otomatis itu mempengaruhi harga pasaran dunia sehingga permintaan ekspor agak berkurang, itu akan mempengaruhi, artinya demand-nya itu berkurang sementara suplainya kita tetap segitu,” imbuhnya.
Sementara itu, lanjut Abu, terkait beberapa keluhan yang dirasakan para nelayan yakni terjadinya pendangkalan pada jalur muara-muara sungai di wilayah Kabupaten Karawang. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR Kabupaten Karawang untuk bisa melakukan pengerukan.
“Pendangkalan kemarau terjadi saat ini dan kami sudah membuat surat tiga bulan yang lalu ke PUPR untuk mengirimkan beko atau eskavator, karena kita tidak mempunyai alat itu. Dikirimlah eskavator itu di bulan ini, jadi kita bantu semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita melalui koordinasi lintas sektoral seperti PUPR,” katanya.
“Hal itu mudah-mudahan nanti kalau memang sudah lancar alur lalu lintas, perahu itu baik dari laut ke darat maupun pelelangan yang mau berangkat InsyaAllah nanti produksinya akan naik lagi dan saya masih tetap optimis tahun ini akan tercapai sesuai dengan target. Meskipun pada saat ini baru tercapai sekitar 14 persen, itupun hanya perahu-perahu kecil yang berangkatnya, perahu-perahu besar yang ukurannya 10 GT tidak bisa karena memang terkendala di kandas, boleh di cek sekarang, di pelelangan sepi itu karena memang perahunya tidak bisa keluar dan ombaknya besar juga,” tambahnya.
Meskipun demikian, ia mengaku optimis terkait pencapaian target Realisasi Retribusi pada Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Balai Benih Ikan (BBI) tahun 2022. Sebab, pada tahun lalu telah mencapai target realisasi mencapai 118,611 persen.
“Jadi pada setengah tahun pada tahun ini memang baru mencapai lima persen, harus digaris bawahi itu, bukan satu setengah tahun, itu salah. Kalau satu setengah tahun berarti dihitungnya tahun lalu juga di tahun 2021, sedangkan di tahun lalu kita mencapai target realisasi mencapai 118,611 persen, jadi jangan keliru, dan per 11 Juli 2022 sudah mencapai 14,02 persen,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, pihaknya terus mengupayakan dengan pemanfaatan potensi perikanan di mana Dinas Perikanan Kabupaten Karawang akan membangun cold storage atau gudang beku. Hal itu dilakukan mengingat potensi perikanan budidaya di Karawang memiliki luas 18 ribu hektar, dengan kapasitas produksi 36 ribu ton per tahun dan hal itu tersebut berpotensi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karawang.
“Alhamdulillah, tahun ini kita sudah bergerak untuk pengadaan tanahnya dan untungnya tahun depan 2023 kita bisa bergerak membangun cold storage-nya, sehingga nanti ikan yang datang dari luar ke kita, kita bisa melakukan pengontrolan dan pembinaan. Ikan itu kualitasnya bagus atau tidak, layak konsumsi apa tidak, nanti disitu kita melakukan pembinaan kalau ada tempatnya, nah baru kita boleh melakukan pengumutan retribusi,” ujarnya.
“Jadi saya mohon dukungan kepada masyarakat semua di Karawang terutama pengambil keputusan bahwa pada tahun ini kita coba menganggarkan untuk pengadaan tanah. Pengadaan tanahnya supaya kita bisa bangun cold storage, PAD-nya bisa masuk, dan kontinyuitas bahan baku pengolahan itu selalu tersedia, dan kita sudah melibatkan sekitar 3.500 pengolah ikan, itu tidak lain selain mengolah pindang. Nah itu perlu sentuhan dari kita, pembinaan dari kita, caranya apa, kita dengan menyediakan bangunan itu,” ungkapnya. (*)

You may like

Bank BJB Karawang Berbagi Keberkahan Iduladha, Salurkan Sapi dan Domba untuk Masyarakat

Wujud Kepedulian Sosial, Polres Karawang Gelar Jumat Berkah

Dalih Antar Pulang Anak Mengaji, Pria diKarawang Tega Cabuli Bocah 5 Tahun

Empat Saksi Sudah Diperiksa, Polres Karawang Tegaskan Kasus Kekerasan Seksual Anak Masih Berproses

Primaya Karawang Expo 2026: Hadirkan 40 Dokter Spesialis dan Health Talk untuk Masyarakat

Sinergi Pupuk Kujang bersama Kalangan Industri di Karawang Distribusikan Hewan Kurban untuk Masyarakat
Pos-pos Terbaru
- Bank BJB Karawang Berbagi Keberkahan Iduladha, Salurkan Sapi dan Domba untuk Masyarakat
- Wujud Kepedulian Sosial, Polres Karawang Gelar Jumat Berkah
- Dalih Antar Pulang Anak Mengaji, Pria diKarawang Tega Cabuli Bocah 5 Tahun
- Empat Saksi Sudah Diperiksa, Polres Karawang Tegaskan Kasus Kekerasan Seksual Anak Masih Berproses
- Primaya Karawang Expo 2026: Hadirkan 40 Dokter Spesialis dan Health Talk untuk Masyarakat







