Connect with us

Regional

Lumpur Pengerukan Irigasi Berserakan di Jalan, Warga Kutajaya Karawang Keluhkan Proyek Normalisasi Berujung Kecelakaan

Published

on

KARAWANG – Proyek normalisasi saluran irigasi di Desa Kutajaya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menuai keluhan dari warga setempat dan pengguna jalan. Pasalnya, material tanah dan lumpur hasil pengerukan alat berat (excavator/beko) hanya ditumpuk begitu saja di bahu jalan raya, hingga meluber ke tengah jalan dan memicu rentetan kecelakaan lalu lintas.

Kondisi jalan raya yang ramai kini berubah menjadi licin dan berlumpur. Air bercampur tanah yang dibiarkan berserakan tanpa penanganan langsung membuat jalur tersebut sangat rawan dilewati, terutama pada malam hari karena minimnya penerangan.

Salah seorang pengendara motor asal Kecamatan Pedes, Ito Sucipto, mengaku menjadi salah satu korban dari kelalaian proyek tersebut. Ia terjatuh saat melintasi jalan raya Kutajaya ketika pulang bekerja pada malam hari.

“Harapan saya, kalau bisa setelah lumpur dikeruk dari sungai irigasi itu langsung diangkut oleh kendaraan atau truk. Jadi tidak ada lagi pengendara motor yang jatuh akibat jalan licin oleh lumpur,” ujar Ito saat ditemui di lokasi, Kamis (22/10/2026).

Merespons keluhan warganya, Kepala Desa Kutajaya, H. Deni Lesmana, membenarkan bahwa lokasi proyek tersebut telah menjadi titik rawan kecelakaan bagi para pemotor. Menurutnya, pihak pelaksana proyek seharusnya menyediakan armada pengangkut agar material lumpur tidak mengotori jalan fasilitas publik.

“Karena jalurnya ramai, apalagi kalau malam hari, kondisi jalan jadi sangat licin akibat air dan lumpur yang berserakan ke tengah jalan raya. Sejatinya, untuk menghindari kerawanan kecelakaan, pihak yang punya pekerjaan menyediakan dump truck. Begitu beko mengeruk tanah dari bawah irigasi, langsung dinaikkan ke atas kendaraan dan diangkut menjauh,” tegas H. Deni.

Tanggul Jebol di Kutagandok Picu Ancaman Banjir

Tidak hanya mengkritisi metode pengerukan di wilayahnya, H. Deni Lesmana juga menyoroti kinerja Perum Jasa Tirta (PJT) II, khususnya wilayah Rengasdengklok. Ia mendesak Kepala Dinas PJT II Rengasdengklok untuk turun langsung meninjau kondisi infrastruktur irigasi di Desa Kutagandok yang bertetangga dengan desanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, banyak titik tanggul yang jebol dan rusak karena tidak mampu menahan volume air yang tinggi setelah adanya peninggian saluran.

“Intinya bagi Kepala Dinas PJT II Rengasdengklok, coba lihat dan datang langsung ke Desa Kutagandok. Itu banyak tanggul yang jebol akibat rusak tidak kuat menahan saluran air yang begitu tinggi. Saluran air ditinggikan tanpa memperkuat tanggul justru bisa membuat wilayah seberang sana terendam banjir,” jelasnya.

Pihak pemerintah desa berharap proyek normalisasi ini bisa dievaluasi total agar membawa berkah bagi para petani, bukan malah mendatangkan musibah bagi warga sekitar dan pengguna jalan.

“Harapan kami selaku kepala pemerintahan desa, agar pekerjaan normalisasi berjalan lancar, tanggul irigasi dikokohkan dan dibuat kuat untuk menahan air. Ini krusial sesuai dengan harapan para petani yang mau turun ke sawah dan sangat membutuhkan pasokan air,” pungkas H. Deni.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun perwakilan PJT II Rengasdengklok terkait keluhan penumpukan lumpur di bahu jalan serta perbaikan tanggul yang jebol tersebut.(Mio)