Regional
Waspada! Kasus DBD di Jawa Barat Meningkat
Published
4 tahun agoon
By
Redaksi
INFOKA.ID – Dinas Kesehatan Jawa Barat mencatat kasus demam berdarah dengue (DBD) tahun 2022 lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jabar dr Ryan Bayusantika Ristandi mengatakan, peningkatan kasus DBD di Jawa Barat dikarenakan adanya perubahan iklim dari musim hujan ke musim kemarau (Musim Pancaroba) sehingga pertumbuhan nyamuk DBD meningkat.
“Masih kurangnya PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) di masyarakat dimana kebersihan lingkungan di masing-masing rumah kurang diperhatikan dan tidak dilaksanakannya PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) sehingga nyamuk bisa berkembang di lingkungan rumah dan menyebabkan kasus DBD meningkat,” katanya, dilansir dari Pikiran-Rakyat.com, Rabu (31/8/2022).
Berdasarkan data Dinkes Jabar, dari Januari hingga Juli 2022 ini tercatat terdapat 24.000 kasus DBD, sedangkan pada tahun 2021 dengan rentang bulan Januari-Desember mencapai 23.000 kasus.
Total kasus DBD Jabar tahun 2022 periode Januari-Juli 24.192 dengan 224 kematian. Kota dengan kasus tertinggi yaitu Kota Bandung dengan 3.936 kasus, Kabupaten Bandung 2.777 kasus, Kota Bekasi 1.910 kasus, dan Sumedang 1.425 kasus.
Kota dengan Kematian Tertinggi tahun 2022 yaitu kabupaten bandung 37 kematian, Kota Tasikmalaya 22 kematian, Kabupaten Sumedang dan Kota Sukabumi dengan 13 kematian.
Total kasus DBD Jabar tahun 2021 periode Januari-Desember 23.959 dengan 212 kematian. Kota dengan kasus tertinggi yaitu Kota Bandung dengan 3.743 kasus, Kota Depok 3.155 kasus, Kabupaten Bogor 2.220 kasus, dan Kota Bekasi 2.006 kasus.
Kota dengan Kematian Tertinggi tahun 2021 yaitu kabupaten bandung 24 kematian, Kota Cimahi 22 kematian, Kabupaten Bogor 22 Kematian dan Kota Tasikmalaya dengan 21 kematian.
Selain itu, adanya lonjakan kasus karena meningkatnya sistem Pencatatan dan Pelaporan kasus DBD dengan Aplikasi Silantor (Sistem laporan Vektor) dan SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) merupakan suatu sistem yang dapat memantau perkembangan trend suatu penyakit menular potensial KLB/wabah dari waktu ke waktu (Periode Mingguan).
Ryan pun mengatakan, untuk menangani DBD Dinkes Jabar melakukan upaya pencegahan dan pengendalian DBD dalam penanggulangan kasus dengan menggerakan masyarakat untuk melakukan PSN 3M Plus melalui GI1RI1 gerakan satu rumah satu jumantik.
Selain itu upaya larvasidasi dan juga deteksi dini DBD dengan RDT DBD di fasyankes.
“Yang Harus dilakukan masyarakat dalam mencegah DBD adalah dengan menjadi juru pemantau jentik di wilayah tempat tinggal masing-masing. Gerakan juru pemantau jentik tidak hanya dirumah tapi juga tempat umum, sekolah, perkantoran dll.
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa sehingga yang perlu diberantas secara rutin seminggu sekali adalah jentik nyamuk aedes aegepti,” katanya. (*)
Sumber: Pikiran-Rakyat.com

You may like

Minggon Rutin Pemdes Kertaraharja: Kunci Transparansi Pembangunan dan Soliditas Aparatur Desa

Didik Generasi Muda, Lapas Karawang Ajak Siswa SD IT Al Mumtaaz Belajar Bertani dan Beternak

Komisi II DPRD Karawang Minta Pengelolaan Pasar Telagasari Dikembalikan ke Desa dan Dimusyawarahkan dengan Pedagang

Bupati Karawang Lantik 2.251 Anggota BPD, Minta Perketat Pengawasan Anggaran Desa

Prakasa 1 Berikan Apresiasi Kepada Mitra Finco Dan Karyawan Di Gala Dinner

NasDem Gelar ‘Run for Change 2026’ di Karawang, Kategori 5K dan 10K Gratis!
Pos-pos Terbaru
- Minggon Rutin Pemdes Kertaraharja: Kunci Transparansi Pembangunan dan Soliditas Aparatur Desa
- Didik Generasi Muda, Lapas Karawang Ajak Siswa SD IT Al Mumtaaz Belajar Bertani dan Beternak
- Sharp Perluas Party Speaker, Hadirkan Phantom Series dan Core Blast Series untuk Beragam Gaya Hidup Konsumen
- Komisi II DPRD Karawang Minta Pengelolaan Pasar Telagasari Dikembalikan ke Desa dan Dimusyawarahkan dengan Pedagang
- Bupati Karawang Lantik 2.251 Anggota BPD, Minta Perketat Pengawasan Anggaran Desa






